Opini

Cerpen, Bunga di Tepi Rel Kereta

Bunga di tepi rel. (Foto: Pikist.com)
Bunga di tepi rel. (Foto: Pikist.com)

Oleh: Amen Rauf

Kereta itu telah tiada, meninggalkan penumpang-penumpang yang berhamburan, termasuk Dahlia. Dia duduk di kursi stasiun itu dan melihat orang-orang yang sudah mulai beranjak pergi. Dahlia tidak tahu ke mana akan pergi di ibu kota yang sebesarnya Jakarta. Beberapa penumpang sudah pergi, tinggal dia sendiri menanti sesuatu yang tak pasti.

Setelah beristirahat sejenak, lelahnya sedikit menghilang. Dia lalu menelusuri rel kereta api. Dia berjalan beberapa kilometer dan menemukan bunga yang tumbuh di tepi rel. Entah bunga apa namanya. Tapi yang pasti sangat indah. Dahlia lalu mendekatinya, dan memegang bunga itu. Dia terpesona. Wah, indahnya.

Dia benar-benar terpesona. Dia terus mengelus-ngeluskan tangannya pada bunga itu. Dia ingin mengambilnya, tapi mengurungkan niatnya karena tidak tahu harus ditanam di mana. Dia berpikir, kalau saja punya rumah di sini, pasti dia ambil dan menaruhnya di pot yang bagus, lalu diletakkan di depan rumahnya.

Dia hanya duduk di sebelahnya. Tiba-tiba kereta datang. Dia sedikit mundur untuk menghindar dari kereta. Dia khawatir kereta itu akan menabrak bunga itu. Tapi bunga itu tidak tersentuh oleh roda kereta. Ia hanya diterjang dengan sapuan anginnya yang begitu kencang hingga membuat bunga itu terombang-ambing. Dahlia segera tahu hidup di pinggir rel kereta itu memang berat, seperti yang dialami bunga indah itu.

Dahlia baru sadar kalau malam telah menghampirinya. Orang-orang sudah mulai berdatangan, termasuk orang-orang yang berjualan, sekaligus pembelinya. Dahlia mulai banyak melihat lelaki-lelaki bergerombol berdatangan. Di ujung, di tanah yang agak lapang beberapa perempuan telah menggelar tikar dan di tengah-tengahnya tersedia meja. Dari kejauhan, terlihat botol-botol di atas meja itu. Dahlia menerka botol-botol itu adalah teh botol atau minuman biasa lainnya.

Di sisi Dahlia sudah berdiri tenda penjual nasi dengan lilin sebagai penerangnya. Sementara, di sisi lainnya juga berdiri tenda. Dahlia tidak tahu entah tenda apa. Dia melihat-lihat tenda itu tidak ada tempat masuknya. Dia pikir tenda itu kandang anjing. Setelah beberapa saat mengacuhkannya, di dalam tenda itu seperti ada yang bergulat. Dia menoleh ke tenda itu. Ah, mungkin anjing atau binatang apalah sedang bercinta.

“Berapa mbak?"

Dahlia terkejut mendengar pertanyaan itu dari salah satu di antara dua pria yang tiba-tiba ada di sampingnya. “Nggak, nggak dijual. Awas kalau mengganggu bunga ini,” ancam Dahlia.

“Aku nggak ingin bunga itu kok”

“Terus mau apa?”

“Aku hanya ingin mbak menjagaku dari hasrat pekat malam yang selalu menggodaku. Seperti orang dalam tenda tak berpintu itu,” kata pria itu.

Dahlia marah. Dia mengusir dua lelaki itu, dan menyuruh mereka tidak mendekatinya lagi. Dia bilang kepada keduanya bahwa dia hanya ingin seperti bunga itu yang tidak ada orang yang menjamahnya. Dahlia tiba-tiba merasa bunga itu telah menjaga dirinya. Bunga itu telah mengajarinya banyak makna. Meski dalam pekat malam dan tumbuh di tepi rel pula, tapi sebenarnya ia merupakan bunga yang indah, yang tak ternilai harganya, yang tak terjamah.

Dahlia mengalihkan perhatiannya ke bunga itu kembali. Di tengah gelap memang bunga itu tidak terlihat lagi keindahannya. Tidak ada cahaya yang meneranginya, kecuali hanya sedikit bias cahaya lampu yang berhasil menerobos di tengah-tengah pepohonan yang rindang. Mungkin inilah hidup, seindah apapun jika tidak diterangi cahaya tidak akan bermakna apa-apa. Termasuk tinggal di tepi rel kereta seperti bunga.

Lelah ternyata masih mendiami tubuhnya, hingga akhirnya mampu melelapkan kedua mata Dahlia secara tiba-tiba. Kepalanya menimpa tas yang memang dari tadi disandarinya. Dia terbangun saat hari sudah terang. Tapi betapa terkejutnya Dahlia karena ternyata bunga itu telah raib. Dia lalu menanyakan kepada ibu yang ada di kursi yang semalam dijadikan tempat jualan yang tak jauh dari tempat bunga. Tapi si ibu tidak tahu. Lalu dia menanyakan kepada orang-orang yang lainnya juga mendapatkan jawaban yang sama.

Pikirannya sudah tertuju kepada dua lelaki yang semalam mendekatinya. Dahlia berpikir, pasti mereka semalam mengincar bunga itu. Mereka hanya pura-pura menggoda sehingga tidak ketahuan maksud sebenarnya, atau mereka sengaja menghipnotis dirinya sehingga tidak sadar tidur begitu saja.

“Mana mungkin mereka mengajakku masuk ke dalam tenda kandang anjing atau binatang apalah itu,” pikirnya.

Lalu Dahlia mencari toko bunga. Dia ingin mencari bunga itu di toko-toko bunga. Pasti mereka telah menjualnya, atau kalau tidak kedua lelaki itu adalah karyawan toko bunga yang tugasnya mencari bunga-bunga yang indah. Setelah sampai di toko bunga dia melihat satu per satu bunga itu dari toko satu ke toko yang lainnya, tapi tidak ada.

Dia mulai khawatir, bunga itu akan dijual ke luar negeri. Apalagi, sekarang sedang gencar-gencarnya isu penyelundupan bunga. Jika benar bunga itu dijual ke luar negeri, pikir Dahlia, pasti bunga itu akan mahal harganya sebab ia begitu indah, bisa jadi paling mahal sedunia.

Kriiiinnngg tiba-tiba ponsel yang ada di sakunya berbunyi. Ternyata mamanya menelpon. Oh ya Tuhan, aku lupa menelpon ke rumah. Dia menepok jidatnya.

“Iya mama” jawabnya.

“Kok gak nelpon sih?!”

“Ya, kemarin kecapekan sampai gak ingat nelponnya. Lagian paginya harus cari-cari kerja.”

Dahlia tidak berani memberitahukan kepada ibunya kalau dirinya telah bekerja, mencari bunga dan akan menjaganya. Dia pikir, kalau saja dia memberitahukan aktifitasnya seperti itu pasti ibunya akan menyuruhnya pulang untuk mengurus usaha orang tuanya. Bukankah dia ke Jakarta dengan alasan ingin bekerja di kantoran. Gara-gara bunga itu niatnya sekarang sirna dan berubah arah.

Dahlia kembali ke rel. Dia dengan sabar mencari bunga itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menggelar tikar, menjual minuman yang kemarin dia lihat seperti teh botol. Dia sudah mulai banyak yang akrab dengan lelaki-lelaki yang datang silih berganti. Banyak yang mengajak berkencan di tenda yang tak berpintu. Lelaki-lelaki yang datang menggodanya, mencubitnya, bahkan kadang memegang bokongnya.

Dia pun sadar kalau lelaki-lelaki datang hanya untuk menikmati tubuhnya dan kaumnya, dengan mata, tangan, dan yang lainnya. Dia merasa di manapun dia hidup harus beradaptasi dengan sekitarnya. Lambat laun dia sudah akrab dengan bau minuman yang pernah dikiranya teh botol itu. Dan asap rokok pun telah menyembul dari mulutnya. Dia telah merasa menjadi warga kota Jakarta yang sesungguhnya, bukan lagi orang desa. Tapi bunga itu telah terlanjur mengajarinya: di mana pun dia berada bunga yang indah tetaplah bunga yang indah.

Suatu hari, di sebuah koran harian ibu kota memberitakan penyelundupan bunga ke berbagai negara. Dahlia membacanya dan memperhatikan gambar-gambar bunga yang diletakkan di sela-sela tulisan berita itu. ah, bukan, tidak ada. Mungkin gambar bunga-bunga itu hasil pencarian di sebuah situs di internet.

Dahlia tidak puas hanya membaca berita itu. Dia membolak-balik koran itu untuk mencari alamatnya. Dia ingin pergi ke kantor koran itu atau paling tidak dia ingin menanyakan lewat telepon di mana gerangan tempat bunga-bunga itu berada. Namun hasilnya nihil, kantor koran tersebut tidak memberitahukannya karena dengan alasan kode etik, orang yang diwawancarainya tidak ingin disebutkan nama dan alamatnya.

Dahlia menelusuri rel kereta itu kembali, berharap menemukan bunga. Bunga itu masih muda, masih belum terlalu mekar, dia kelak akan lebih indah dari yang sekarang, masih punya banyak waktu untuk berkembang, punya masa depan. Jika bunga itu tidak ditemukan dia berharap menemukan bunga-bunga yang lainnya yang serupa. Dia ingin mengumpulkan bunga-bunga itu. Jika saat ini tidak bisa merawatnya, dia akan mencari pertolongan kepada orang-orang lain, menitipkannya di rumah-rumah mereka hingga kelak waktunya tiba, punya rumah. Dan bunga itu harus terawat sebagaimana mestinya.