
GRESIK – Sutradara dari Komunitas Gresik Movie, Akbar Prawiro (30) mengkritik tingkat polusi di Gresik lewat film berjudul Gemintang. Film ini pun sukses meraih penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Barekraf) dalam ajang Family Sunday Movie (FSM) 2022.
Film berdurasi sekitar 10 menit tersebut terpilih dalam official selection FSM periode Februari 2022, untuk genre film fiksi. Perjuangan dan kerja keras, dibutuhkan oleh Irfan dan kru dari Komunitas Gresik Movie untuk dapat mewujudkan film Gemintang, yang justru menjadi cerita menarik tersendiri dari balik layar.
Film pendek Gemintang menggunakan dua tokoh utama anak kecil, yang tercatat masih duduk di bangku kelas II Sekolah Dasar (SD). Untuk pemeran cewek adalah Qaireen Khansa Prawiro, dan Muchammad Baidlowie Azhari untuk sosok pemeran cowok, bercerita mengenai susahnya mereka dalam mewujudkan tugas sekolah untuk menggambar bentuk bintang yang ada di langit.
“Tapi itu sebenarnya kritik halus dari kami, khususnya saya pribadi, untuk industrialisasi yang ada di Gresik tercinta ini,” ujar Irfan saat ditemui awak media di markas Komunitas Gresik Movie di kompleks Perumahan BP Wetan, Gresik belum lama ini.
Sineas kelahiran Desa Boboh, Kecamatan Menganti, Gresik ini menilai, tingkat polusi yang terjadi akibat industrialisasi di Gresik sudah cukup mengkhawatirkan. Bahkan, Irfan dan rekan-rekannya di Komunitas Gresik Movie sempat membaca sebuah hasil survei bahwa tingkat polusi yang ada di Gresik sudah menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.
Berbekal pemikiran tersebut, Irfan kemudian membingkainya menjadi film Gemintang. Lewat film ini, dia menggambarkan susahnya kedua pemeran utama dalam melihat bentuk nyata bintang di angkasa dari wilayah Gresik, lantaran tertutup kabut asap dari polusi pabrik-pabrik yang berdiri di Gresik.
Proses Pembuatan Film
Kendati hanya berdurasi sekitar 10 menit, namun dibutuhkan proses panjang, perjuangan dan kerja keras dari Irfan maupun kru dari Komunitas Gresik Movie. Dengan awal mula cerita film Gemintang, dikatakan oleh Irfan sudah terbayang sejak tahun 2017 silam.
“Kalau pra film itu saya sudah mulai sejak 2017, masih sebatas cerita. Terus saya mulai wujudkan itu pada 2020, karena saat itu ada Festif (festival film indie yang digelar oleh Kemenparekraf, saat dipimpin Wisnutama),” tutur Irfan.
Melalui agenda Festif pada 2020 itulah, film Gemintang menjadi salah satu yang terpilih, dari total 20 proposal yang masuk dalam kriteria panitia. Sehingga kemudian mendapatkan hadiah berupa uang tunai, yang lantas digunakan sebagai biaya pembuatan film Gemintang sesuai cerita.
“Biaya produksi film habis Rp40 sampai Rp45 juta, itu termasuk uang kami sendiri. Dengan dua pemeran utama, cewek Qaireen Khansa Prawiro dan cowok Muchammad Baidlowie Azhari, yang sama-sama masih kelas II SD,” kata Irfan.
Setelah ditetapkan menjadi salah satu film terbaik dalam official selection FSM untuk periode Februari 2022, Irfan bersama rekan-rekannya di Komunitas Gresik Movie akan mengikutsertakan film Gemintang dalam ajang kejuaraan internasional.
Untuk diketahui, Komunitas Gresik Movie ini didirikan oleh Irfan dan rekannya yang bernama Sandi sejak 2011 silam. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 32 film pendek yang berhasil mereka produksi, termasuk film Gemintang.
“Awalnya itu ada delapan orang yang ikut mendirikan komunitas ini, termasuk saya dan Irfan. Kami semua satu kampus, namun dari tiga angkatan berbeda. Kesemuanya warga Gresik,” ucap Sandi.
Seiring perjalanan waktu, anggota Komunitas Gresik Movie terus bertambah hingga berjumlah puluhan orang saat ini. Namun, yang sering meluangkan waktu berkunjung ke markas di kompleks Perumahan BP Wetan hanya sekitar sembilan hingga sepuluh orang.
Pewarta: Aif
Editor: Muhyiddin Yamin
