WAJO — Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional ke-8 dan Asia Tenggara ke-1 tahun 2025 sedang berlangsung di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Event lomba baca kitab kuning ini digelar sejak 1 Oktober hingga 7 Oktober 2025.
Namun, banyak peserta yang penasaran dengan maskot MTQ Internasional kali ini? Dari mana asal ikan pakai kopyah itu berasal?
Maskot MQK 2025 diberi nama Bungosa, akronim dari “Bungo” (ikan khas Danau Tempe) dan “Asa” (harapan dalam Bahasa Bugis). Bungosa digambarkan sebagai sosok tenang, bijaksana, dan penuh makna. Karakter ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Bugis yang menjunjung kesabaran, kerendahan hati, dan kekuatan dalam kesunyian.
Ikan bungo, yang menjadi inspirasi utama maskot, hidup di dasar Danau Tempe yang keruh dan jarang muncul ke permukaan. Meski tersembunyi, ikan ini bernilai tinggi bagi masyarakat sekitar.
Filosofi ini melambangkan keteguhan dalam tekanan, kesederhanaan, dan kearifan dalam diam—nilai yang selaras dengan kehidupan pesantren dan tradisi pembelajaran kitab turats yang membutuhkan perenungan serta kesungguhan batin.
Dalam desain visual Bungosa, panitia juga memasukkan motif tradisional Bugis seperti Balo Tettong dan Balo Makkalu yang berpadu membentuk Sulapa Eppa’ (persegi empat), simbol kesempurnaan hidup. Empat unsur kehidupan menurut falsafah Bugis—tanah (kesabaran), air (kerendahan hati), api (semangat), dan angin (kejujuran)—dihadirkan sebagai bagian dari karakter maskot.
Selain maskot, panitia juga memperkenalkan logo MQK 2025 yang mengusung simbol kunci (miftah). Kunci dipilih sebagai bentuk utama karena merepresentasikan ilmu sebagai jalan pembuka pemahaman, peradaban, dan perdamaian.
Dalam tradisi pesantren, kunci menjadi simbol untuk menggali makna terdalam dari kitab turats, membuka cakrawala keilmuan, sekaligus menumbuhkan semangat moderasi dan keseimbangan.
Logo ini juga mengandung pesan ekologis yang kuat. Selaras dengan tema besar MQK 2025, “Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats,” simbol kunci mengingatkan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian penting dari tradisi keilmuan Islam yang diwariskan para ulama.
Dengan logo dan maskot ini, panitia menegaskan bahwa identitas MQK 2025 tidak sekadar lambang, melainkan sarana komunikasi nilai. Kearifan lokal, ilmu yang membumi, serta kesadaran global berpadu untuk menjadikan MQK lebih dari sekadar kompetisi, tetapi sebagai gerakan kolektif menghadirkan solusi pesantren bagi dunia.
