News Sejarah

Titik Nun di Laut Jawa yang Penuh Misteri dan Cerita Legenda

BOYANESIA — Kalau ada yang tanya, “Bro, tau Pulau Bawean nggak?” kemungkinan besar banyak orang bakal geleng kepala. Wajar sih, soalnya pulau ini memang terpencil banget, berada di tengah Laut Jawa, tepatnya di antara Pulau Jawa dan Kalimantan.

Dari jauh, kalau dilihat di peta, Pulau Bawean cuma kelihatan kayak titik kecil—kecil banget—mirip huruf *
nun dalam aksara Arab. Makanya pulau ini sering dijuluki “Titik Nun dari Pulau Jawa”.

Di Mana Sebenarnya Pulau Bawean?

Pulau Bawean terletak sekitar 120 kilometer di utara Gresik, Jawa Timur, dan dekat juga dengan Pulau Madura. Tapi jangan salah, secara administratif Bawean masuk wilayah Kabupaten Gresik. Pulau ini kecil, hanya terdiri dari dua kecamatan: Sangkapura dan Tambak.

Meski kecil, jangan remehkan! Bawean punya budaya yang unik, tradisi kuat, dan sejarah yang bikin penasaran.

Siapa Penemu Pulau Bawean? Masih Misteri!

Pertanyaan klasik: siapa sih yang pertama menemukan Pulau Bawean? Jawabannya…tidak ada yang tahu pasti. Serius. Belum ada catatan sejarah atau penelitian ilmiah yang benar-benar memastikan siapa yang pertama datang ke pulau ini.

Tapi, masyarakat Bawean punya cerita rakyat yang diturunkan dari leluhur mereka. Konon, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut Majapahit terjebak badai di Laut Jawa. Kapal mereka terombang-ambing sampai akhirnya terdampar di sebuah pulau.

Saat mereka tiba, matahari sedang terbit, cahayanya begitu terang menyinari pulau itu. Karena itulah, mereka menamainya “Bawean”, dari bahasa Sanskerta yang berarti “sinar matahari”.

Tapi ya namanya juga legenda. Orang Bawean sendiri menyebut kisah ini sebagai “Nya Papandiren”—yang artinya kurang lebih: ya cuma cerita turun-temurun, tanpa bukti konkret.

Nama Bawean di Naskah Kuno dan Dunia Sastra

Ternyata Bawean nggak cuma muncul di cerita rakyat. Dalam Negarakertagama, kitab kuno peninggalan masa Majapahit, pulau ini disebut dengan nama “Pulau Buwun”.

Nama ini kembali populer setelah Mardi Luhung, sastrawan asal Gresik, merilis buku puisi berjudul “Buwun”. Jadi bisa dibilang, Bawean bukan pulau sembarangan — jejaknya ada dalam sejarah dan karya sastra Indonesia.

Banyak Julukan, Banyak Cerita

Selain “Titik Nun” dan “Buwun”, Pulau Bawean punya banyak nama panggilan lain, antara lain Pulau Putri– karena banyak laki-laki Bawean merantau, pulau ini dulu didominasi perempuan. Ada juga yang menjuluki Pulau Majeti– julukan lokal yang kaya makna dan sejarah. (Soal semua julukan ini bakal seru kalau dibahas khusus di artikel lain!)

Bahasa yang Mirip Tapi Nggak Sama dengan Madura

Walau dekat dengan Madura, bahasa Bawean berbeda dengan bahasa Madura. Orang yang belum terbiasa bakal keringetan duluan dengerin orang Bawean ngobrol—cepat banget, Bro! Kosakatanya pun banyak yang unik.

Jadi walaupun kelihatannya mirip, penutur bahasa Madura belum tentu langsung paham bahasa Bawean.

Kenapa Pulau Ini Menarik?

Karena Bawean masih alami dan punya identitas kuat. Tradisi budayanya tetap terjaga, bahasanya khas, dan masyarakatnya ramah. Pulau ini juga punya fauna unik seperti rusa Bawean (Axis kuhlii) yang langka dan dilindungi dunia.

Pulau kecil ini seperti “mutiara yang tersembunyi” di Laut Jawa. Masih banyak misteri sejarah yang belum terjawab, legenda yang belum ditelusuri, dan keindahan alam yang belum terekspos luas.

Pulau Bawean mungkin cuma tampak seperti titik kecil di peta. Tapi di balik titik itu, tersimpan sejarah yang misterius, budaya yang kaya, dan kisah yang memikat. Dan buat kamu yang suka jelajah budaya dan sejarah Indonesia, ingat satu hal: Bawean bukan sekadar pulau—ini adalah cerita.

Dan seperti kata orang Bawean: “Nya Papandiren.” Kadang, cerita yang tak pasti justru membuat kita makin ingin mencari tahu, kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *