BOYANESIA — Indonesia sempat riuh oleh perdebatan soal peran pesantren dalam membangun bangsa. Tapi alih-alih turun ke jalan sambil berteriak-teriak, Pagar Nusa memilih jalur lain: bergerak senyap tapi berdampak.
Pada Ahad (19/10/2025), organisasi pencak silat Nahdlatul Ulama ini menggelar apel pasukan dan latihan gabungan serentak di 211 titik seluruh Indonesia. Seragam serba hitam, barisan rapi, mental disiplin—dan yang paling penting, zero insiden.
Nggak ada orasi panas penuh provokasi, nggak ada gerakan politik terselubung. Yang ada cuma satu: pesan moral dari para santri—kami ada, kami siaga, kami menjaga.
Ketua Umum Pagar Nusa, Gus Nabil Haroen, menegaskan aksi besar ini bukan show of force. Ini adalah show of values.
“Pesantren adalah pusat lahirnya ulama dan penjaga moral bangsa. Mengerdilkan pesantren sama saja mengerdilkan akar peradaban Indonesia,” ujar Gus Nabil saat memberi amanat apel.
Ia menyebut tiga juta kader Pagar Nusa siap kapan pun dibutuhkan bangsa. Tapi mereka tetap memilih jalan damai. “Zero insiden ini bukti kedewasaan santri. Kami tahu kapan harus berdiri, dan bagaimana harus bergerak,” ucapnya.
Respons Santri: Santun Tapi Tegas
Belakangan pesantren dan ulama sering jadi sasaran framing negatif di ruang publik. Pagar Nusa membaca ini sebagai sinyal bahaya—bukan untuk kepentingan politik, tapi untuk kehormatan pesantren.
Gerakan ini tidak menggertak, tapi mengingatkan: santri tidak tinggal diam.
Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an, menyebut aksi Pagar Nusa sebagai alarm sosial.
“Ada 43 ribu pesantren di negara ini. Pesantren adalah kekuatan sosial terbesar di Indonesia. Kalau ada narasi yang merendahkan pesantren, ya bangkitnya santri itu wajar—itu hukum sejarah,” katanya.
Aksi serentak ini digelar menjelang peringatan Hari Santri 2025. Momen ini bukan dipakai untuk euforia, tapi membangkitkan kembali semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945—hanya saja konteksnya berbeda.
Kalau dulu para kiai menyerukan jihad melawan penjajahan, kali ini jihad adalah melawan misinformasi, fitnah, dan upaya memecah belah bangsa.
Aksi ditutup dengan pekikan lantang tiga kali yang menggema serentak: “Bela Kiai! Jaga Pesantren! Bela Negeri!”
Pesannya jelas: santri bukan musuh negara. Mereka justru bentengnya—yang berdiri kuat agar bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya sendiri.
