Budaya

Residensi di Gresik, Hasilkan Buku Tambo Girisik Kumpulan Cerpen Hikayat Giri Kedaton

BOYANESIA | Di sebuah lorong jalan perkampungan era kolonial , bunyi musik gendang bertabuh, mengawali acara malam puncak Literatutur 2025. Laju kendaraan satu per satu berhenti, puluhan masyarakat dari pemuda, pegiat budaya, akademisi, hingga sastrawan, budayawan berkumpul duduk bersama di Teras Cafe Sualoka Hub Kampung Kemasan, Kelurahan Pekelingan, Kecamatan/Kabupaten Gresik.

Suasana penuh keakraban terjalin pada acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Gang Sebelah itu. Malam itu, Sabtu (25/10/2025), mungkin alam kian merestui. Rintikan hujan mereda hingga para peserta yang mengikuti berdamai dengan membaca dan mendengarkan Musikalisasi Puisi, pembacaan cerpen, hingga testimoni para penulis buku kumpulan Cerpen, berjudul Tambo Girisik. Tambo bermakna suatu hikayat, dan Girisik berarti Gresik.

Dalam peluncuran buku hasil residensi literatutur Hikayat Giri Kedaton itu, ada 10 tulisan Cerita Pendek (Cerpen )dari 10 penulis yang lolos seleksi dari kegiatan Literatutur yang sudah kali keduanya dilaksanakan.

Ketua Yayasan Gang Sebelah Hidayatun Nikmah, mengatakan, peluncuran buku Tambo Girisik merupakan malam puncak kegiatan hasil kegiatan residensi literatutur yang sudah dilaksanakan pada tanggal 19 sampai 21 September 2025 lalu.

“Kami membuka seleksi seluruh penulis dari seluruh Indonesia. Kami seleksi menjadi 10 penulis, kami undang ke Yayasan Gang Sebelah. Lalu, kami antarkan ke kawasan situs Giri Kedaton,” ucapnya, Minggu (26/10/2025).

Hasilnya, yakni buku Tambo Girisik ini, yang berisi hikayat Giri Kedaton. Dari kegiatan itu, pihak panitia mengajak para peserta Residensi melihat potensi sejarah dan kebudayaan. Yang ditulis dari sudut pandang masing-masing peserta.

“Salah satu isinya buku, dibacakan saat pentas pembacaan Cerpen karya Lusia Priandarini, itu ada di pembuka cerpen,” ujar Ida.

Pembina Yayasan Gang Sebelah Dewi Musdalifah, menjelaskan kegiatan residensi literatutur ini, upaya dari gang sebelah untuk memandang Gresik, meminjam mata orang lain.

“Mungkin Gresik bagi warga Gresik sendiri, tidak seberapa istimewa, hanya ada kerumitan dari kondisi wilayahnya. Maka, meminjam mata orang luar Gresik, ini bicara jujur tentang Gresik. Melalui kegiatan ini, bisa kembali menggali kecintaan Kota Gresik,” jelasnya.

Dewi berharap kegiatan residensi yang sudah kali kedua ini, bisa terus terlaksana setiap tahunnya. Mendatangkan penulis dari luar, atau komunitas dengan konsep berbeda.

“Titik fokusnya, Gresik sebagai tuan rumah bagi siapa yang datang. Itu bagian dari semangat gerakan budaya dan seni dari gang Sebelah,” ujarnya.

Rosul Jaya Raya salah satu peserta Residensi, mengaku terkesima dengan Gresik. Pasalnya, baginya Gresik yang ia tau industri, masyarakat urban, dan kota Santri.

“Tapi setelah saya mengikuti kegiatan ini selama tiga hari , ada banyak potensi kebudayaan dan sejarah di Kota ini. Bahkan kota ini pusat perdaban Islam melalui wali songo Sunan Giri, Maulana Malik Ibrahim, dan Nyai Ageng Pinatih. Kebetulan saya menulis Khazanah seni permacanan dalam cerpen saya di buku Tambo Girisik, ” ucap pemuda asal Surabaya ini.

Setali tiga uang, peserta lainnya, Eka Aprilia R, perempuan asal Wringinanom menceritakan dari kegiatan ini, sebuah anugerah mengenal Gresik lebih jauh.

“Saya berasal dari Wringinanom, wilayah perbatasan dengan Sidoarjo, Surabaya, dan Mojokerto. Tentu aktivitas tentang Gresik jarang diketahui. Dari kegiatan ini, semakin jatuh cinta dengan Gresik, ” tuturnya.

Hingga larut malam, di pinggir lorong jalan kampung kemasan, kampung yang kaya dengan sejarah dan budaya. Para peserta tetap berada di kursi masing-masing. Mereka mendengarkan Diskusi Publik , Literatutur : Residensi, Investigasi, dan Imajinasi. Tiga pemateri diskusi itu, Irfan Akbar Prawiro, Ketua Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) ,Zimam Pemerhati Budaya Gresik, dan Nur Faqih Budayawan Gresik. Dengan moderator dari seorang akademis Raleva Febrina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *