Opini

Kiai Syakir Jamhuri Bawean yang Saya Kenal

Oleh: KH Mohammad Fauzi Ra’uf (Ketua PCNU Bawean)

BOYANESIA — Bagi santri Bawean di Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Wonorejo tahun 1980–1990-an, Pak Syakir—demikian kami memanggil beliau—adalah sosok yang sangat spesial. Selain sebagai guru, Kiai Syakir Jamhuri juga menjadi panutan dan pembimbing kami dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal berorganisasi.

Kami selalu terpesona dengan kepribadian dan keteladanan beliau, hingga tanpa sadar meniru gaya hidup, cara bicara, bahkan gaya kepemimpinannya. Pengaruh beliau terhadap murid-murid dan para juniornya sangat kuat. Beliau memiliki bakat dan minat yang luas, mencakup bidang keilmuan, pendidikan, seni, olahraga, dan tentu saja permainan catur. Pergaulannya pun luas—beliau berteman dengan berbagai lapisan masyarakat.

Menurut para sesepuh di kampung halamannya, bakat kepemimpinan dan kecintaannya pada dunia organisasi sudah tampak sejak muda. Semasa di SMP Islamiyah, beliau sudah aktif berorganisasi dan menunjukkan kemampuan memimpin. Di pondok, oleh kiai, beliau dipercaya menjadi administratur pesantren, mengurus hampir seluruh aspek kepesantrenan, termasuk pendidikan formal dan hubungan dengan birokrasi pemerintahan.

Seingat saya, beliau termasuk sosok yang berperan besar dalam proses modernisasi pendidikan formal di PP Kiai Syarifuddin, terutama di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, yang sebelumnya masih bercorak salaf. Tahun 1987, ketika saya duduk di kelas 10, kami masih belajar kitab-kitab seperti Tafsir Jalalain, Tahrir, dan Alfiyah Ibnu Malik.

Beliau juga berhasil mengorganisasi para santri Bawean melalui berbagai kegiatan. Salah satunya lewat organisasi bernama ORPIBA (Organisasi Pelajar Islam Bawean). Melalui organisasi ini, kami ditempa lewat kegiatan pengajian elementer di bilik-bilik santri, muthala’ah, dan musyawarah kitab-kitab salaf.

Para santri Bawean diberikan kepercayaan oleh kiai untuk menjalankan kegiatan organisasi, baik rutin maupun insidental. Kegiatan-kegiatan ini benar-benar terasa manfaatnya ketika kami sudah terjun ke perguruan tinggi atau masyarakat.

Setiap tahun kami rutin mengadakan peringatan hari lahir organisasi dan mengundang tokoh-tokoh Bawean, baik lokal maupun nasional.

Sekitar tahun 1985, beliau memiliki gagasan visioner: menggalang para santri Bawean di seluruh Jawa Timur dalam satu wadah bernama ISBARA (Ikatan Santri Bawean Rantau). Untuk keperluan itu, saya pernah diajak beliau berkeliling Jawa Timur, menemui para santri Bawean di berbagai pesantren, bahkan hingga pesantren kecil.

Bersama para senior seperti M. Zen Karim (kini kiai dan penulis di Kuala Lumpur), Zulfa Ihsan, Qudsi Jamil, Abdul Manaf Saleh, dan Jauhari, beliau membentuk ISBARA untuk melengkapi organisasi yang sudah ada sebelumnya, yaitu IMPSB (Ikatan Mahasiswa Pelajar dan Santri Bawean).

Menurut Pak Syakir, peran santri dalam IMPSB kurang optimal karena aktivitas santri berbeda dengan mahasiswa dan pelajar. Karena itu, perlu dibentuk wadah khusus.

ISBARA di bawah kepemimpinan beliau pernah mengadakan Basic Training di kantor PWNU Jawa Timur yang kala itu masih beralamat di Jalan Darmo, Surabaya. Dalam perjalanannya, ISBARA mengalami pasang surut sebagaimana organisasi daerah pada umumnya.

Ketika kami masih duduk di sekolah menengah, Pak Syakir sudah melanjutkan studi di perguruan tinggi, yaitu STIH. Beliau menjalin pertemanan dengan banyak tokoh penting di Lumajang, bahkan pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang LP Ma’arif Kabupaten Lumajang. Teman-temannya di kampus banyak berasal dari kalangan kepolisian. Apa pun yang berkaitan dengan beliau, selalu membuat kami kagum.

Bagi saya pribadi, demikian pula bagi para juniornya, beliau adalah sosok luar biasa. Beliau yang mengatur waktu, kegiatan, dan bahkan keuangan kami sehari-hari selama di pondok. Saya pernah mengaji kitab Nadzam Imrithi kepada beliau hingga hafal di kelas lima ibtidaiyah. Saya juga pernah ditugasi beliau menulis tarjamah Imrithi, karya beliau sendiri.

Sejak di pondok, beliau gemar mengoleksi buku bacaan. Namun karena kesibukannya, saya justru sering membaca lebih banyak dari koleksi beliau. Dari rak bukunya, saya mengenal Tarjamah Ihya’ Ulumiddin, Sejarah Peradaban Islam karya Syalabi, buku-buku Buya Hamka, serta karya-karya tentang sejarah dan tata negara. Beliau berlangganan majalah Tempo, Gatra, Panji Masyarakat, Aula, serta koran Jawa Pos. Dari tumpukan majalah dan koran itulah minat baca saya tumbuh.

Ketika terjadi tragedi Tanjung Priok sekitar tahun 1985 yang menewaskan almarhum Amir Biki, saya mengikuti perkembangannya lewat buletin bawah tanah yang entah bagaimana beliau dapatkan. Saya juga sering mendengarkan kaset pidato Syarifin Maloko dan Abdul Qodir Jailani dari koleksi beliau.

Minat baca saya tumbuh dan berkembang di bilik pesantren Wonorejo melalui koleksi pribadi Pak Syakir.!Suatu hari beliau bertanya,

“Kamu mau kuliah ke mana?”
Saya menjawab, “Ke IAIN Yogyakarta, Pak.”
Beliau berkata, “Nanti saya antar.”

Keinginan saya kuliah di Kota Gudeg memang terinspirasi dari buku-buku daras perguruan tinggi Islam seperti karya Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy, Prof. Mokhtar Yahya, KH Tholhah Mansur, dan nama-nama besar lainnya dari Yogyakarta—semuanya saya baca dari rak buku Pak Syakir. Dan benar, ketika saya tamat dari Madrasah Aliyah, beliau benar-benar mengantarkan saya naik bus Probolinggo–Yogyakarta.

Pengabdian di Dunia Pendidikan

Pengalaman beliau mengelola pendidikan di Pondok Wonorejo menjadi modal berharga saat mengabdi di Bawean. Saat liburan kuliah, saya sering berdiskusi dengannya tentang rencana mendirikan lembaga pendidikan formal di Desa Sokaoneng dan prospek pendidikan secara umum.

Kami sering sependapat, meski kadang berbeda pandangan. Namun satu hal yang tak berubah dari beliau adalah keteguhannya memegang prinsip. Apa yang beliau yakini benar akan diperjuangkan habis-habisan. Pernah suatu kali, demi menyelenggarakan acara ISBARA di Bawean, karena kesulitan dana, beliau rela menjual sepeda motornya.

Dalam banyak hal, pandangan kami memang berbeda, terutama setelah saya berkhidmah di NU dan beliau terjun ke dunia politik. Namun secara pribadi, saya tetap sangat menghormati beliau—sebagai guru, senior, dan kiai pengasuh pesantren.

Beberapa tahun terakhir, seiring bertambahnya usia dan keluasan berpikir, sikap beliau terhadap NU juga banyak berubah. Kritik-kritiknya tidak lagi seperti dulu. Beliau kembali aktif mengikuti kegiatan NU, terutama pengajian bulanan yang kini telah memasuki kitab ketiga.

Meski kondisi fisiknya mulai renta karena sakit, semangatnya untuk hadir di majelis-majelis ngaji tidak surut. Bahkan, beliau kerap satu mobil dengan almarhum Kiai Muzajjad—rival perjuangannya di Sokaoneng. Sebagai murid, saya sangat bahagia melihatnya kembali aktif di lingkungan NU.

Peran dan pengaruh beliau dalam kehidupan masyarakat Bawean—khususnya bidang keagamaan, pendidikan, dan politik—sangat jelas. Beliau pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Gresik, pengasuh pesantren, dan hingga akhir hayatnya menjabat Ketua MUI Kecamatan Tambak.

Pak Syakir dipanggil ke hadirat Allah SWT pada Selasa, 28 Oktober, bertepatan dengan suasana Hari Santri. Selama hidupnya, beliau telah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya, penuh warna dan pengabdian. Yayasan Al-Amin, pesantren, dan sekolah-sekolah di bawahnya adalah pusaka perjuangan beliau—amal jariyah yang akan terus mengalir.

Semoga istrinya, Nyai Asfuriyah, beserta anak-anak beliau—baik biologis maupun ideologis—diberi kekuatan dan semangat lahir batin untuk melanjutkan perjuangan beliau.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Selamat jalan, Kiai…
Selamat beristirahat panjang, wahai guru…
Selamat bertemu para pendahulu…

Pettong, Telukdalam, 30 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *