Sejarah

Kampung Rojing, Kampung Arab di Pulau Bawean

Syekh Zainuddin Bawean, salah satu ulama Bawean

BOYANESIA – Salam toghellen (saudara) ..kali saya akan membagikan ketikan-ketikan tentang lempengan sejarah yang ada di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Karena, mungkin belum banyak orang tahu bahwa di Pulau Bawean ternyata dulu juga memiliki kampung Arab tepatnya di Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak.

Kampung Arab ini ditemukan dalam hasil penelitian sejarawan Islam Bawean, Burhanuddin. Jadi ceritanya, ada seorang kiai yang merupakan keturunan keluarga asal Sulawesi bernama KH Arsyad. Dia adalah putera dari Suryani, yang tinggal di Desa Sukaoneng, tepatnya di sebuah perkampungan bernama Dhejhe Ropet.

Kiai Arsyad ini menikah dengan Nyai Fatimah dan kemudian melahirkan generasi emas di kampung itu. Pada periode Kiai Arsyad ini pula, ada sebuah perkampungan kecil bernama kampung Rojing di Sukaoneng yang terkenal dengan sebutan Kampung Arab.

Tidak banyak yang bisa diketahui tetang penyebutan Kampung Arab yang menempel pada Dusun Rojing tempo dulu. Namun, yang jelas kampung Rojing ini memang merupakan markas masyarakat Sukaoneng yang sering melakukan ibadah haji. Karena itu, masyarakat di sekitar dusun Rojing, khususnya di Dusun Rojing sebelah utara menyebutnya Kampung Arab.

Di kampung Rojing ini, masyarakatnya juga tekenal memiliki penguasaan kitab-kitab kuning dan menguasai Alquran, serta kitab hadits. Istri kiai Arsyad, Nyai Fatimah atau lebih dikenal dengan Nyai Imah juga termasuk perempuan yang telah memulai menghafal hadits di dalam kitab al-Hikam.

Ketika sudah dalam kondisi tidak bisa melihat, Nyai Fatimah juga sempat menghafal Alquran. Karena itu, masyarakat Rojing meyakini bahwa Nyai Imah telah menjadi seorang Hafizah, perempuan yang telah menghafal Alquran 30 juz.

Baca di halaman selanjutnya.


Kiai Muhammad Amin Sukaoneng

Kiai Muhammad Amin, Tokoh Kunci Perkembangan Intelektual di Bawean

KH Arsyad merupakan seorang kiai asal Sulawesi yang menetap di Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Dari pernikahan Kiai Arsyad dan Nyai Fatimah lahirlah seorang putri yang bernama Rukyenah. Dari Rukyenah ini kemudian lahir lah cucu Kiai Arsyad yang bernama Kiai Muhammad Amin, yang kemudian menjadi kiai besar di Sukaoneng.

Kiai Muhammad Amin bin Sawar merupakan tokoh kunci perkembangan kehidupan intelektual di Desa Sukaoneng. Awalnya, pemuda Muhammad Amin dikenal sebagai santri kelana. Dia mulai belajar mengaji dari satu guru ke guru lainnya hingga ke Pulau Jawa sambal berdagang mengikuti langkah pamannya, Tamar bin Kiai Arsyad.

Muhammad Amin merantau ke luar pulau, dengan menjual tikar khas Bawean menuju Pulau Jawa hingga ke bagian wilayah timur, mulai dari Pasuruan, Probolinggi, hingga ke Lumajang. Ini sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun yang hampir sama dilakukan masyarakat Pulau Bawean tempo dulu, khususnya masyarakat Desa Sukaoneng.

Sambil berjualan tikar, pemuda Muhammad Amin, menuntut ilmu di beberapa pesantren. Salahs atu gurunya yang cukup mempengaruhi perjalanan kariernya adalah KH Zaianl, seorang ulama karismatik di Pasuruan. Setelah menuntut ilmu, dia pulang ke kampung halamannya untuk mengamalkan ilmunya.

Sejak menetap di Pulau Bawean, Kiai Muhammad Amin kemudian merintis pesantren tradisional dengan bermodalkan papan tulis kecil berukuran 1×1 meter untuk mengajar santrinya. Pada priode ini pemerintah Kolonial Belanda telah aktif melakukan pengawasan terhadap para kiai yang membuka pengajian keagamaan. Karena itu, Kiai Amin pun terpaksa mengajar santrinya secara sembunyi-sembunyi.

Pada 1934, kemudian Kiai Amin merintis madrasah dengan sistem klasikal yang diberi nama Madrasah Miftahul Ulum. Saat itu, dia juga terlibat dalam jaringan ulama di Pulau Bawean. Para sahabanya antara lain Kiai Mas Raji dari Desa Kebun Teluk Dalam, Kiai Hamid dari Dusun Pancor, Kiai Muhammad Yasin dari Kepuh Teluk, Kiai Subhan dari Daun, dan Kiai Hatmin dari Laccar.

Tidak berlebihan jika dikatakan, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) untuk kali pertama di Pulau Bawean yang bertempat di Desa Sukaoneng, tidak terlepas dari peran Kiai Muhammad Amin. Hingga pada akhirnya, Kiai Muhammad Amin menjadi utusan ulama Bawean yang harus menghadiri Muktamar NU di Surakarta (Solo) pada 29 Rajab-3 Sya’ban 1382 Hijriah atau 29 Desember 1962 M.

Pada masanya, Kiai Muhammad Amin pun menjadi ulama karismatik dan disegani oleh masyarakat Bawean. Dia dikenal tegas menjalankan fikih dalam kesehariannya. Kiai Amin juga selalu mengajarkan keikhlasan dalam mengabdi kepada masyarakat, serta dikenal gigih dalam memperjuangkan pendidikan dan pengetahuan keagamaan.

Selain merintis pengajian tradisional yang digelar di rumahnya sendiri, berdirinya pondok pesantren tradisional di Dusun Rojing, dengan Kiai Mas’udi sebagai pengasuhnya, tidak bisa lepas dari prakarsa Kiai Muhammad Amin.

Hingga pada suatu waktu, Kiai Mas’udi kemudian menjadikan Kiai Muhammad Hasan bin Tamar sebagai anak angkatnya sekaligus penerus kepengasuhan pesantren di Rojing, Sukaoneng. Kiai Muhammad Hasan sendiri merupakan sepupu dari Kiai Muhammad Amin.

Kini, lembaga-lembaga pendidikan formal Miftahul Ulum, hingga berdirinya Yayasan al-Amin yang merintis sebuah pesantren tidak bisa dipisahkan dari latar belakang semangat perjuangan Kiai Muhammad Amin.

Hingga memasuki masa tuanya, Kiai Muhammad Amin masih terlihat intensitasnya menjalin hubungan dengan ulama di Pulau Bawean dan para sahabatnya yang tinggal di Singapura dan Malaysia. Aktivitas intelektual dan pemikiran keagamaannya ia buktikan pula dengan melahirkan karta tulis.

Diketahui, Kiai Amin mengarang kitab yang berisi kajian ilmu tauhid yang membahas sifat wajib, sifat muhal dan sifat jaiz bagi Allah Swt. Bahkan, buah karya Kiai Amin tentang sifat-sifat Allah (ilmu tauhid) pernah dicetak di Singapura dengan menggunakan bahasa Bawean. Sayangnya, kitab ini tidak bisa diungkapkan di sini lantaran edisi aslinya saat ini masih berada dalam penjagaan ahli warisnya, Haji Buhaiqi Amin, yang menetap di Ipoh, Malaysia.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian dari sejarawan Islam Bawean, Burhanuddin.