
BOYANESIA — Salam sobat Boyan….Pendakwah muda Dennis Slim menjelaskan tentang perbedaan taaruf dan pacaran saat diundang ke Podcast Close the Door. Santri Aa Gym ini mengatakan, Taaruf secara bahasa berarti perkenalan dan berbeda dengan pacaran.
“Taaruf itu secara bahasa sih artinya kenalan sebetulnya. Cuma memang taaruf itu benar-benar tujuannya untuk menikah. Kalau pacaran kan gak niat untuk menikah, cuma naksir, secara fisik tertarik, tiap hari ketemu, ya udah. Belum tentu ada tujuan ke sana,” jelas pendakwah kelahiran 1991 ini dikutip dari kanal Youtube Deddy Corbuzier, Selasa (4/7/2023).
Namun, menurut dia, tidak semua orang berhasil dalam proses taaruf. Bahkan, secara statistik dari 10 calon pasangan hanya ada dua yang berhasil. “Jadi taaruf itu untuk mencari tahu justru orangnya dia atau bukan. Dari 10 calon pasangan yang nyampek nikah tuh secara statistik cuma dua, delapan tuh enggak jadi nikah,” kata pria yang diakrab dipanggil Koh Lim ini.
Namun, lanjut dia, bukan berarti taaruf yang dilakukan mereka itu gagal. Karena, kata dia, taaruf itu memang tujuannya untuk mencari tahu apakah mereka pasangan yang cocok atau tidak. Berbeda dengan orang pacaran, menurut dia, orang yang taaruf juga tidak pakai topeng.
“Dan lebih enggak pakai topeng karena belum ada timbul rasa apapun. Sedangkan kalau pacaran kan pinjem jaket temen, pinjem motor teman. Jadinya pakai topeng gitu kan. Dan akhirnya timbul duluan rasa yang seharusnya belum boleh timbul,” ucap Koh Lim.
Koh Lim dan istrinya, Yunda Faisyah juga merupakan hasil dari proses taaruf yang dijembatani oleh seorang guru. Menurut dia, pertanyaan apapun yang ingin disampaikan kepada calon istrinya waktu itu harus melalui seorang guru. Kemudian, istri guru tersebut yang menyampaikan ke calon istrinya. Begitu pun sebaliknya.
“Jadi, guru menjadi perantara yang memastikan prosesnya tidak ada yang melanggar syariah, lebih ke arah sana sih, biar supaya tidak ada interaksi langsung yang bisa jadi celah setan untuk menimbulkan perasaannya,” kata Koh Lim.
Dalam melakukan taaruf, menurut dia, perasaan cintanya juga harus jelas ditujukan kepada apa. Jika ingin cintanya abadi, menurut dia, maka harus disandarkan kepada Yang Maha Abadi, yakni Allah SWT.
“Perasaan cintanya fitrah, tapi cintanya mau disandarin kepada apa nih? Kalau disandarinnya kepada sesuatu yang tidak abadi, entah hartanya itu cuma titipan, wajahnya bakal habis dimakan usia, jabatannya belum lima tahun ditangkap KPK misalnya,” ujarnya.
“Jadi, maksudnya kalu pengen cintanya abadi ya disandarkannya kepada Yang Maha Abadi. Maka, kalau akhirnya mempersatukan mereka berarti apa? Ya bukan rasa naksir dan cintanya itu, tapi tujuannya,” jelas Koh Lim.
