
boyanesia.com/ — “Lid, kalak landuk, ajek kanca-kancana akerje bhekte manaek kalerker dari songai ye..” (Lid, ambil cangkul dan ajak teman-temannya (siswa/siswi sekolah MTS Himayatul Islam) gotong royong menambang batu kerikil dari sungai ya..”
Itulah perintah Dr KH Anwari Faqih (Kiai Berik) kepada saya saat masih menjadi santri beliau dengan menggunakan bahasa Bawean. Saya pun langsung menjawab sembari menunduk, “Enggih keae bule laksanakan!” (Baik kiai saya laksanakan!)
Percakapan yang sudah berlangsung kisaran 20 dua tahun silam itu kembali terngiang di telinga saya, khususnya di tengah para santri dan alumni Pondok Pesantren Ummi Ro’tiah Bawean yang bersiap diri dengan riang gembira dan penuh khidmat menyambut Haul KH Anwari Faqih ke-9.
Baca Juga: Biografi Singkat KH Anwari Faqih, Pendiri Pesantren di Pulau Puteri
Adalah teks yang sudah nenjadi konteks. Dari anjuran sudah menjelma menjadi samudra ajaran. Suatu upaya-upaya yang luhur dan mulia dari sang kiai dalam menggembleng santrinya. Proses edukasi sang guru yang juga kepala sekolah kepada muridnya yang tidak akan pernah penulis lupakan sampai kapan pun.
Sebuah penempaan kepribadian dengan model yang dalam istilah saya, saya sebut dengan model pembelajaran super-ekstrakurikuler. Sebuah trobosan metode penggemblengan mental dan ruhani yang out of the box melalui pendekatan “Kerja Bakti” .
Kenapa saya sebut metode pendidikan ala Kerja Bakti hasil pendekatan Kiai Anwari Faqih ini dengan model pembelajaran super-ekstrakurikuler? Karena cara dan metode Kerja Bakti yang beliau terapkan sangat tidak lazim dan belum ditemukan dalam kamus panduan baku bahan ajar siswa mana pun saat itu.
Baca Juga: Wajibkah Memberi Nafkah pada Orang Tua yang Berbeda Agama?
Di saat sekolah lain berlomba-lomba menata sisi kelembagaan dan kurikulum untuk memperkuat branding pemasaran sekolahnya untuk menarik minat calon siswa baru, bapak kepala sekolah yang satu ini malah nengarahkan pandangannya ke sudut yang lain.
Dan, anehnya lagi, walaupun model kerja bakti ala pak kepala sekolah ini tidak masuk dalam kalender akademik resmi siswa lembaga pendidikan yang beliau pimpin, namun terkesan sekali pendekatan kerja Bakti macam sudah menjadi role model pembelajaran unggulan dan priotitas yang hendak beliau galakkan. Ini bisa dilihat dari intensitas, perhatian, dan pendampingan yang rutin pak kepala sekolah terhadap pola pembelajaran yang satu itu.
Jangankan saya dan teman yang seangkatan (MTS Himayatul Islam, angkatan 2001), guru sekalipun belum tentu memahami visi pembelajaran yang hendak pak kepala sekolah itu canangkan saat itu: Apa relevansi Kerja Bakti siswa menambang pasir dan batu krikil sungai bagi pembelajaran siswa?
Baca Juga: Kisah Pelaut Majapahit yang Temukan Titik Nun dari Pulau Jawa
Bahkan, kadang tidak jarang perintah kerja bakti pak kepala sekolah itu datang bersamaan dengan munculnya terik matari (sudah mendekati jam istirahat sekolah).
Pertanyaan lanjutannya, apa pentingnya beliau yang notabene kepala sekolah berjibaku dan memimpin langsung kerja bakti siswa di lapangan, tidak ubahnya seorang manager yang sedang menjalankan On the Job Training (OJT) bagi calon karyawan perusahan teknik sipil yang sedang pendampingan menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk keperluan pembangunan kontruksi? Di mana itu menuntut pendampingan super ketat.
Di masa itu, selain beliau, tidak ada yang berani berspekulasi karena hanya sang pembuat kebijakanlah yang paling kapabel dan otoritatif bisa menjawab pertanyaan mendasar di atas.
Baca Juga: NU Care-Lazisnu Bawean Galang Dana untuk Warga Palestina
Namun, yang hampir bisa dipastikan saat itu adalah bahwa secara garis besar pelaksanaan kerja bakti oleh beliau biasanya dilaksakan dalam dua situasi krusial (internal) dan genting (eksternal) sekolah:
Pertama, di saat jam belajar siswa kosong karena guru piket berhalangan hadir. Kedua, di saat terjadi kerusakan parah jalan raya yang jadi akses utama jalan poros desa, baik akibat curah hujan atau peristiwa longsor yang menuntut segera ada perbaikan karena terkait keamanan lingkungan dan kelancaran arus mobilitas masyarakat.
Seiringan berjalannya waktu, saya tersadarkan, bahwa desain pembelajaran out of the box model “Kerja Bakti” yang beliau gagas itu sangat berguna dan relate dengan kebutuhan zaman.
Baca Juga: 7 Perbedaan Pulau Bawean dan Madura
Kecanggihan manfaat penggemblengan mental dari kiai betul-betul saya rasakan manfaatnya sebagai bekal awal begitu saya melanjutkan ke tahap studi lebih lanjut di SLTA-Perguruan tinggi.
Model penggemblengan mental peserta didik dan keteladan alamrhum sebagai sosok kiai dan guru sekolah yang bertumpu pada semangat kerja keras, integritas, dan produktifitas kerja pemberdayan dan pengabdian seakan telah menumbuh dalam diri saya menjadi semacam penunjuk jalan akan hambatan-hambatan dunia organisasi, kepepemimpinan, dan bentang dinamika sosial kemasyarakatan yang tidak bertepi.
Kiai yang saya kenal, memang bukan tipe pemimpin yang suka berpangku tangan, beliau turun langsung ke lapangan menyelesaikan detail-detail persoalan. Uniknya, walaupun begitu, kiai sangat jarang sekali menjelaskan secara rencana aksi beliau ke bawahan. Tidak mengherankan kalau beliau sering melakukan sidak baik di lingkungan sekolah maupun pesantren.
Baca Juga: Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi di Pulau Bawean, Saling Tukar Berkat
Menjadi mitra kerja beliau dituntut memiliki kecapakan dan kecerdasan di atas rata-rata. Jika tidak beradaptasi dan menyesuaikan dengan ritme kerja beliau, maka bersiaplah tertinggal di belakang dari langkah pengorganisasian cara kerja beliau yang sangat kosmopolit.
Kecanggihan beliau dalam mengelola lembaga ditopang dengan daya dukung kapasitas managerial dan kepempinan beliau yang mumpuni. Ini sejalan dengan habitus beliau sebagai pembelajar yang baik. Seorang kiai kampung dengan minat baca yang tekun. Tidak banyak yang menyangka, bahwa litarasi kitab kuning beliau juga dekat dengan sumber-sumber pengetahun dan informasi umum.
Mungkin tidak banyak santri yang mengerti kalau kiai nyentrik kita ini sangat update seputar perkembangan di luar, khususnya terkait dinamika pergerakan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Beliau berlangganan tidak hanya koran, tapi juga majalah/tabloid. Saat itu adalah yang mewah bagi sekelas kiai kampung.
Baca Juga: Fatayat NU dan Nasyiatul Aisyiah Bawean Siap Jadi Relawan Peduli Disabilitas
Jadi wajar saja, kadang apa yang coba bawahan tebak akan pikiran-pikiran dasar kiai di penggung depan, itu berbeda 85 derajat dengan apa yang kiai kehendaki di panggung belakang. Kiai sudah terbang jauh di depan, santrinya masih tertinggal jauh dibelakang. Makanya, jadi partner kerja beliau harus siap-siap senam jantung. Otak kita harus nyambung dengan apa yang sedang dikerjakan beliau di lapangan.
Ada satu cerita. Dan, ini sudah masyhur di angkatan saya. Seorang santri pernah kenak semprot (marah besar) oleh kiai. Usut-punya usut kemarahan kiai dilatarbelakangi oleh perilaku salah satu santri yang kurang berkonsentrasi dalam penggarapan suatu pekerjaan yang didampingi langsung kiai. Tepatnya, saat kerja bakti penataan tata ruang dan resik-resik lingkungan pesantren yang itu rutin kiai lakukan bersama santri, biasanya seminggu sekali saat libur jam belajar santri.
Konteks cerita di atas sebetulnya kiai sedang menguji karena santri sedang tidak berfokus dalam bekerja, caranya kiai sengaja menyamarkan materi perintah ke santri, “tolong ambilkan barang itu” sembali menunjuk gudang yang penuh dengan tumpukan peralatan yang letaknya tidak terlalu jauh lokasi kerja bakti.
Baca Juga: KH Dhofir bin Habib, Ulama Bawean yang Makamnya Dibongkar di Jakarta
Sontak, sang santri bengong bak disambar petir karena dapat perintah dadakan dari kiai. Di tengah kebingungan, santri salah tafsir menerjemahkan isi perintah kiai: Maksud Kiai agar kita diambilkan linggis, sang santri malah datang membawa cangkul.
Kegeraman kiai dalam cerita ini sebetulnya merupakan aksi panggung yang sesuai alur skenario. Karena kiai dalam banyak kesempatan selalu men-treatment dua hal dalam kepribadian santrI.
Satu, menyangkut mental. Apakah santri dongkol dan mutung setelah dapat bentakan kiai? Jika mutung, berarti misi gagal. Dan ujian kiai bertubi-tubi berikutnya akan datang dalam ragam bentuk bagi santri yang dinyatakan gagal.
Baca Juga: Apakah Sama Bahasa Bawean dan Bahasa Madura?
Kedua, menyangkut kepekaan dan pengusaan lapangan: Sejauh mana akurasi perintah kiai bisa ditangkap dengan tingkat eksekusi sang santri di lapangan.
Jika santri bersangkutan berkonsentrasi dengan kerjaan yang sedang digarap bersama kiai, cerita salah tafsir santri di atas pastilah tidak akan pernah terjadi. Sang santri dipastikan bisa mengukur alat apa yang perlu diambil dan itu cocok dengan keperluan yang sedang kiai kerjakan.
Hemat saya, model pembelajaran super-ekstrakurikuler dengan pendekatan Kerja Bakti Ala Kiai Berik ini bertitip pijak pada usaha eksprementasi memadukan dan mengkombinasikan dua otoritas sekaligus; otoritias keulmaan (karena beliau adalah Pengasuh Pondok Ummi Roti’ah) dan di sisi lain hendak menegakkan otoritas managerial dan kepemimpin guru (karena kapasitas beliau juga sebagai Kepala Sekolah MTS Himayatul Islam saat itu).
Baca Juga: Pantai Mayangkara, Hamparan Pasir Putih Tersembunyi di Pulau Bawean
Sebagai ASN guru agama yang digaji oleh negara di satu sisi dan sebagai kiai pesantren di sisi lainnya tentu kiai perlu menanamkan keteladan moral dan intelektual sekaligus. Bahwa memberikan teladan kepemimpinan bagi lingkungan sekolah itu sangat penting, khususnya bagi guru-guru lainnya yang beliau pimpin sudah menjadi kewajiban.
Bahwa tanggung jawab lembaga pendidikan dan tugas guru sebagai ujung tombak tidak hanya sekadar mentransfer pengetahuan, namun yang tidak kalah pentingnya adalah menanamkan pendidikan akhlak dan kepribadian secara kokoh.
Jika Presiden Jokowi tengah menggalakkan gerakan revolusi mental melalui jalur pemerintahan, maka jauh sebelumnya Kiai Berik telah mengaggas sebuah model penggemblengan mental dan akhlak peserta dengan pendekatan Kerja Bakti dan resik-resik lingkungan.
Baca Juga: Budaya Merantau Suku Bawean
Melalui warisan model Kerja Bakti siswa, Kiai Berik hendak memberikan pembelajaran kita semua, khususnya para pendidik (guru) bahwa lembaga pendidikan (dengan segala perangkat satuannya, dari level bawah sampai atas) tidak boleh berjarak dan mengangkangi masyakarat.
Di mata beliau pendidikan mesti bisa live in dengan dinamika berkembang di luar bangku sekolah. Agar apa? Agar siswa bisa experiential learning menjadi manusia pembelajar yang tercerahkan. Manusia-manusia Indonesia yang merdeka, peduli, berbudi baik, dan pekerja keras.
Dalam hal ini, tidak berlebihan rasanya kalau saya menyebut almarhum sebagai sebagai salah satu role model pendidik revolusi mental terbaik yang lahir dari pesantren. Semoga warisan ilmu dan keteladannya bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-sehari dan mari kita doakan almarhum diberikan jalan lapang disisi-Nya. Amin.
Ditulis oleh: Abdul Khalid Boyan, Ketua Osis MTS Himayatul Islam 2002-2003
