News Sejarah

Perbedaan Mencolok Suku Bugis dan Makassar, Dua Etnis Besar di Sulawesi Selatan

Rumah khas orang Bugis

WAJO — Sulawesi Selatan dikenal sebagai daerah yang kaya akan keberagaman budaya. Dua suku terbesar yang mendiami wilayah ini adalah suku Bugis dan suku Makassar. Keduanya sering dianggap sama oleh orang luar Sulawesi, padahal memiliki identitas, bahasa, serta tradisi yang berbeda.

Meski begitu, Bugis dan Makassar hidup berdampingan dan berkontribusi besar terhadap sejarah serta peradaban di kawasan timur Indonesia.

Asal Usul dan Persebaran

Suku Bugis berasal dari wilayah pesisir dan pedalaman Sulawesi Selatan, terutama di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, dan Sidrap. Bugis juga dikenal sebagai perantau ulung yang menyebar ke berbagai daerah di Nusantara, bahkan hingga Semenanjung Malaya.

Sedangkan Suku Makassar berpusat di wilayah pesisir barat daya Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa dan Takalar. Sejak masa lalu, mereka dikenal sebagai pelaut tangguh sekaligus pejuang yang memiliki kerajaan besar, yaitu Kerajaan Gowa-Tallo.

Perbedaan Bahasa

Bahasa Bugis memiliki aksara sendiri yang disebut Lontara. Bahasa ini memiliki dialek yang berbeda di tiap daerah, namun tetap dipahami antarsesama penutur Bugis.

Bahasa Makassar juga memiliki aksara Lontara, tetapi berbeda sistem penulisannya dengan Bugis. Secara fonetik, bahasa Makassar cenderung lebih tegas dengan bunyi khas “ng” di akhir kata, sedangkan bahasa Bugis relatif lebih lembut.

Suku Bugis menjunjung tinggi falsafah hidup yang disebut Pangadereng, yang terdiri atas lima unsur: ade’ (adat), bicara (aturan hukum), rapang (preseden), wari’ (garis keturunan), dan sara’ (syariat Islam). Mereka juga dikenal dengan nilai siri’ na pacce, yaitu rasa malu dan solidaritas sosial.

Makassar juga memiliki falsafah
Siri’ na pacce yang mirip dengan Bugis, tetapi lebih menekankan pada kehormatan dan keberanian. Kehidupan sosial suku Makassar kental dengan tradisi kebersamaan, gotong royong, serta loyalitas terhadap kelompok.

Sorang Liaison Officer (LO) atau petugas penghubung acara Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional (MQKI), Rizkayadi menjelaskan, suku Bugis juga terkenal sebagai perantau dan pedagang ulung. Mereka banyak merantau ke Kalimantan, Jawa, Sumatra, hingga Malaysia. Kapal tradisional Bugis yang disebut phinisi menjadi simbol kehebatan mereka sebagai pelaut.

“Suku Bugis lebih terkenal dengan bisnisnya, ekonominya. Walau suku Makassar lebih terkenal dengan kepandaiannya dalam kepemimpinan. Itu perbedaan yang agak mencolok di antara dua suku,” ujarnya saat mengantar ke lokasi acara MQKI di Kabupaten Wajo, Rabu (1/10/2025.

Orang Makassar pada dasarnya juga pelaut, tetapi lebih identik dengan tradisi nelayan dan petani di wilayah pesisir barat daya Sulawesi. Mereka banyak berhubungan dengan laut, terutama dalam tradisi perdagangan rempah-rempah sejak abad ke-16.

“Makanya kalau dikatakan bahwa suku Makassar itu penjelajah, ya betul. Orang Makassar adalah penjelajah. Tapi di dalamnya itu di backup oleh ekonomi yang dari suku Bugis,” ucap Rizkayadi.

Seni dan Budaya

Suku Bugis memiliki seni tari seperti Tari Pajoge dan ritual adat
mappalili (pembersihan sawah sebelum masa tanam). Bugis juga dikenal dengan kisah epik “La Galigo”, salah satu karya sastra terpanjang di dunia.

Sementara, Suku Makassar terkenal dengan tari “Pakarena”, yang melambangkan kelembutan dan ketaatan perempuan. Dalam musik, gendang Makassar memiliki ciri khas ritme cepat yang digunakan dalam berbagai upacara.

Dari segi karakter, kedua suku ini juga memiliki sejumlah perbedaan. Diantaranya, orang Bugis sering dipersepsikan lebih “diplomatis” dan piawai berdagang. Sedangkan orang Makassar lebih identik dengan sifat pemberani, keras, dan terbuka.

Meski memiliki perbedaan yang jelas, Bugis dan Makassar tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Sulawesi Selatan. Keduanya sama-sama membentuk identitas kuat daerah ini, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Bahkan, hubungan pernikahan antara kedua suku sudah berlangsung lama sehingga melahirkan akulturasi yang harmonis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *