Sejarah

Asal Usul Pulau Bawean: Dari “Sinar Matahari” hingga Jadi Pulau Kehidupan

BOYANESIA — Pulau Bawean, sebuah pulau kecil yang kini masuk wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ternyata menyimpan kisah menarik tentang asal-usul namanya. Dalam buku Cerita Rakyat dari Bawean karya Zulfa Usman, diceritakan bahwa nama “Bawean” berawal dari peristiwa dramatis yang dialami pasukan armada laut Kerajaan Majapahit di tengah samudra.

Awalnya, pulau ini dikenal sebagai Pulau Majeti atau Pulau Majdi. Kata Majdi berasal dari bahasa Arab yang berarti “uang logam”, karena bentuk pulau tersebut bulat menyerupai kepingan uang logam. Namun, seiring waktu, nama itu berubah menjadi Bawean—dan perubahan ini punya kisah tersendiri.

Menurut cerita rakyat, perubahan nama itu terjadi pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Saat itu, Majapahit tengah berusaha mempersatukan Nusantara. Salah satu armada laut yang dikirim kerajaan mengalami musibah besar di tengah Laut Jawa. Mereka diterpa badai hebat, gelombang besar, dan kabut pekat selama berminggu-minggu. Banyak di antara pasukan yang gugur karena lapar dan kedinginan.

Ketika badai akhirnya mereda, dari kejauhan tampak gugusan gunung di ufuk timur. Di antara kabut yang mulai menipis, muncul sinar matahari pagi yang menerangi gugusan itu. Melihat pemandangan tersebut, sisa-sisa armada Majapahit pun segera mendayung menuju arah cahaya itu. Ternyata, gugusan tersebut adalah sebuah pulau kecil—pulau yang kelak dikenal sebagai Bawean. Di sanalah mereka akhirnya menemukan kehidupan baru setelah terombang-ambing di laut.

Penduduk setempat menyambut para pelaut Majapahit itu dengan ramah. Mereka diberi tempat tinggal, makanan, dan pakaian. Karena begitu gembira dan terharu, pemimpin rombongan itu spontan mengucapkan rangkaian kata, “Ba-we-an.” Kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta: ba berarti sinar, we berarti matahari, dan an berarti ada. Jadi Bawean berarti “ada sinar matahari”.

Ungkapan itu lahir sebagai ungkapan syukur atas sinar matahari yang menuntun mereka menuju keselamatan. Sejak saat itulah pulau tersebut dikenal sebagai Pulau Bawean. Nama itu menggantikan sebutan Pulau Majeti atau Pulau Majdi yang perlahan-lahan hilang dari ingatan.

Kini, masyarakat Pulau Bawean telah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Meski penduduknya berasal dari berbagai suku di Nusantara, mereka dikenal memiliki identitas yang kuat dan bangga terhadap nama “Bawean”.

Nama Bawean bukan sekadar penanda geografis, melainkan simbol harapan dan kehidupan baru. Seperti sinar matahari yang menjadi awal keselamatan pasukan Majapahit kala itu, nama ini menjadi warisan makna bagi generasi Bawean hingga kini—bahwa di balik setiap badai, selalu ada “sinar matahari” yang membawa kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *