News

Saatnya Ilmuwan Naik Kelas, Riset Indonesia Kembali Bertaring!

Prof Arif Satria, Kepala BRIN

BOYANESIA — Kabar pelantikan Prof Dr Arif Satria, SP, MSi sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) oleh Presiden Prabowo Subianto jadi angin segar buat dunia intelektual Indonesia. Bukan cuma karena beliau Ketua Umum ICMI Pusat dan Rektor IPB University, tapi karena sosoknya merepresentasikan wajah baru kepemimpinan riset nasional — ilmuwan yang nggak cuma ngomongin teori, tapi benar-benar turun tangan buat kemajuan bangsa.

Ketua ICMI Orwil Jawa Timur, Ulul Albab, menyebut penunjukan ini sebagai kabar baik yang menggetarkan kalangan cendekiawan Indonesia.

“Selama beberapa tahun terakhir, BRIN sering disebut sebagai macan ompong — besar secara struktur, namun lemah dalam taring implementasi,” ujar Ulul dalam keterangan yang diterima pada Kamis (13/11/2025).

Menurutnya, lembaga sebesar BRIN seharusnya jadi motor penggerak inovasi dan riset strategis bangsa, tapi selama ini sering terjebak dalam birokrasi dan fragmentasi. Karena itu, hadirnya Prof Arif dianggap membawa semangat baru.

“Beliau bukan sekadar akademisi menara gading, tetapi juga pemimpin visioner yang memahami bagaimana riset harus bersentuhan dengan realitas sosial, ekonomi, dan ekologis,” ucapnya.

Ulul juga menyoroti visi ekologis Prof Arif yang sudah dikenal luas lewat konsep ecological governance yang bahkan menembus diskursus global. Dengan latar itu, ia yakin arah BRIN bakal lebih berkelanjutan, berkeadaban, dan berkeilmuan.

Langkah Presiden Prabowo menunjuk Prof Arif, kata Ulul, bisa dibaca sebagai bentuk reformasi kelembagaan riset nasional.

“Artinya, riset tidak lagi dikelola dengan logika administratif semata, melainkan dengan semangat kepemimpinan intelektual. Inilah momentum yang sudah lama ditunggu: saat di mana riset tidak hanya menjadi laporan proyek, tetapi menjadi napas pembangunan,” katanya.

Bagi kalangan cendekiawan Muslim, penunjukan ini juga jadi simbol bahwa ICMI kembali ke khitahnya — rumah besar bagi para ilmuwan dan pemikir bangsa.

“Dengan posisi strategis ini, ICMI di bawah kepemimpinan Prof Arif diharapkan mampu mengonsolidasikan kembali gerakan intelektual Islam yang modern, rasional, dan berorientasi kemajuan,” ujar Ulul.

Ia menambahkan, penunjukan ini juga mengingatkan bahwa masa depan bangsa bakal ditentukan oleh mereka yang berpikir dan meneliti, bukan sekadar berbicara.

“Bahwa menjadi cendekiawan sejati berarti menulis, meneliti, dan berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Gelar sarjana bukan lagi tanda akhir perjalanan intelektual, melainkan gerbang awal menjadi periset yang terus haus akan pengetahuan,” katanya.

Ulul berharap di tangan Prof Arif, BRIN benar-benar jadi centre of excellence — pusat kecemerlangan riset yang membuka ruang kolaborasi antara peneliti, industri, universitas, dan masyarakat.

“BRIN harus hadir sebagai jembatan antara ilmu dan kebijakan, antara inovasi dan kesejahteraan,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa bangsa Indonesia sudah punya banyak talenta hebat, tapi belum punya ekosistem yang benar-benar menghargai riset sebagai budaya bangsa.

“Pelantikan ini bukan hanya kabar personal bagi beliau, tetapi simbol kebangkitan riset Indonesia. Bahwa pada akhirnya, negara ini memilih untuk menaruh harapan kepada kaum ilmuwan — kepada mereka yang menyalakan cahaya pengetahuan di tengah gelapnya pragmatisme,” ujarnya penuh semangat.

Ulul menutup dengan pesan penuh makna: “Selamat bekerja Prof. Arif Satria. Kami, para cendekiawan, para periset, dan insan ICMI di seluruh Indonesia, ikut bersyukur dan berbahagia. Semoga di tangan Anda, BRIN kembali bertaring — bukan untuk menakuti, tetapi untuk menggigit kuat arah masa depan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan keimanan.”

Dan bagi ICMI sendiri, katanya, momentum ini seharusnya jadi titik balik penting. “ICMI ke depan harus menegaskan jati dirinya sebagai kumpulan cendekiawan sejati — bukan sekadar sarjana, melainkan pemikir, penulis, peneliti, dan inovator yang aktif, produktif, dan kontributif dalam membangun peradaban.”

Dengan semangat itu, Ulul yakin ICMI akan tetap relevan, bernilai, dan berperan besar dalam sejarah kemajuan bangsa — membawa tiga kekuatan utama: Kecendekiawanan, Keislaman, dan Keindonesiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *