BOYANESIA — Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menegaskan komitmennya memperkuat peran pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Upaya ini diwujudkan melalui Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren dengan mengusung tema “Transformasi Peran Pesantren sebagai Basis Pembangunan SDM Indonesia Emas 2045”, yang berlangsung di Auditorium Kampus II UIN Mataram, Sabtu (15/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Pendidikan Ma’had Aly di Direktorat Pesantren, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. Mahrus, M.Ag., Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., Wakil Rektor I prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag., Wakil Rektor II Prof. Dr. H. M. Saleh Ending, M.A., Wakil Rektor III Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I. Ketua Senat UIN Mataram Prof. Dr. H. MS. Udin, M.Ag., Karo AUPKK, Karo AAKK, Para Dekan, Direktur Pascasarjana, Ketua Lembaga, Wakil Dekan, Sekretaris Lembaga, Kepala Pusat, Kepala Unit/UPT, Kabag umum. Akademik dan Fakultas, Kajur dan Sekjur.
Juga turut hadir dalam kesempatan ini sebagai narasumber kegiatan Drs. TGH. Munajib Khalid pimpinan pondok pesantren Halimy; serta Prof. Dr. TGH. Zainal Arifin, Lc., MA Sekretaris jendral PBNW dan Pimpinan Pondok Pesantren Munirul Arifin NW. Serta dihadiri para pimpinan atau perwakilan pondok pesantren dari berbagai daerah sebanyak 200 peserta. Forum ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan nasional menuju pembentukan Ditjen Pesantren, lembaga yang akan fokus mengelola dan memfasilitasi pendidikan keagamaan Islam di Indonesia.
Bapak Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. H. Pratikno, M.Soc, Sc. juga terlibat dalam acara ini sekalipun tidak hadir secara langsung sebagai Keynote Speaker melalui virtual dengan memberikan materi tentang Transformasi Peran Pondok Pesantren Sebagai BasisPembangunan SDM Indonesia Emas 2045.
Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an menjadikan suasana hening penuh khidmat, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Syabbanul Wathan. Tak ketinggalan, Mars UIN Mataram juga menggema sebagai simbol kebanggaan universitas.
Ketua Panitia yang juga Wakil Rektor III, Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I. dalam laporannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme para pimpinan pesantren yang dengan cepat merespons undangan walaupun distribusi surat dalam waktu yang mepet. Para pimpinan pesantren mengkofirmasi kehadiran dengan mengisi google ini sebagai bukti pondok pesantren saangat melek dengan digitalisasi. 200 peserta dari pimpinan pondok pesantren ini mewakili 958 pondok pesantren yang ada di NTB
Ia menjelaskan bahwa halaqah ini merupakan agenda nasional yang digelar serentak di sejumlah PTKIN atas arahan Dirjen Pendis Kemenag RI sebagai bagian dari proses penguatan kelembagaan menuju lahirnya Ditjen Pesantren. Dalam hal ini negara telah memberikan perhatiannya istimewa kepada pesantren mulai dari penetapan Hari Santri Nasional tahun 2015, Undang-undang pesantren tahun 2019 hingga disetujuinya pembentukan Ditjen Pesantren tahun 2025.
Disamping itu WR III juga menyampikan momentum ini juga Bapak Rektor sekaligus akan melaunching Pusat Studi Naskah dan Pesantren (Pustunastren) UIN Mataram yang akan menjadi pusat penelitian pesantren sehingga jelas arah pengembangannya.
Selanjutnya Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., dalam sambutannya meymapaikan terimakasih kepada Bapak Dirjen Pendis atas kepercayaan yang diberikan kepada UIN Mataran sebagai tuan rumaha untuk melaksanakan Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren ini.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., menyampaikan rasa hormat dan apresiasi atas kehadiran para tokoh, narasumber, dan peserta halaqah. Beliau menegaskan bahwa kesempatan bagi UIN Mataram menjadi tuan rumah kegiatan strategis ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat berarti.“Kami berterima kasih kepada Dirjen Pendis Kemenag RI karena telah mempercayai UIN Mataram sebagai salah satu tuan rumah penyelenggaraan halaqah ini. Ini adalah amanah dan kehormatan besar bagi kami,”ungkap Rektor.
Rektor menjelaskan bahwa rencana pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren adalah bukti kuat bahwa negara memberi rekognisi besar kepada pesantren sebagai pilar penting peradaban nasional.
“Kebijakan pemerintah untuk menambah Ditjen Pesantren adalah bukti nyata bahwa negara hadir di pesantren. Presiden sangat serius menunjukkan kepedulian pada dunia pesantren. Ini bentuk rekognisi besar terhadap kontribusi pesantren dalam membangun peradaban bangsa,” kata beliau.
Prof. Masnun menegaskan bahwa sebanyak kurang lebih12 juta santri dan 42.369 pesantren di Indonesia menunjukkan besarnya sumbangsih pesantren bagi bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyoroti kekuatan tradisi pesantren, dilatih hidup mandiri dari tradisi pesantren. Beliau menambahkan bahwa kesederhanaan hidup santri—dari pola makan hingga kedisiplinan hariannya—telah membentuk daya juang dan integritas yang tinggi.
“Pesantren melahirkan alumni yang berkarakter, yang mungkin hidup sederhana namun tampil tangguh untuk masa depan. Ada tradisi tabarruk, adab, etika, serta konsep penguatan ilmu yang konsisten dijaga oleh pesantren,” jelasnya.
Rektor kembali menegaskan bahwa UIN Mataram akan terus berkomitmen menguatkan hubungan dan kemitraan dengan pesantren. Beliau juga mengapresiasi panitia karena target peserta halaqah yang awalnya dirancang sebanyak 200 orang, justru meningkat dua kali lipat.“Ini menunjukkan antusiasme luar biasa dan cinta para pegiat pesantren terhadap agenda penguatan kelembagaan ini,” tegas Rektor.
Untuk menunjang kemitraan strategis, UIN Mataram terus mengembangkan berbagai program, termasuk hari melaunching Pusat Studi Naskah dan Pesantren (Pustunastren) UIN Mataram menembangkan literatur pesantren, penguatan riset, dan naskah akademik yang mendukung kebijakan penguatan institusi pesantren. Sehingga halaqah ini bukan hanya forum akademik, tetapi juga momentum memperkuat jaringan silaturahmi antar-pengasuh, akademisi, dan pemangku kebijakan.
Menutup sambutannya, Rektor mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri hadirnya negara dan memanfaatkan momentum penguatan kelembagaan pesantren ini sebagai energi baru untuk memajukan pesantren di Indonesia.
Selanjutnya Dirjen Pendis kemenag RI diwakilkan Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Pendidikan Ma’had Aly di Direktorat Pesantren, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. Mahrus, M.Ag., memberikan sambutan sekaligus membuaka acara.
Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly Direktorat Pesantren Kemenag RI, Dr. Mahrus, M.Ag., mewakili Dirjen Pendis, secara resmi membuka acara. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua dan paling otentik di Nusantara. “Pesantren adalah lembaga pendidikan Nusantara yang paling otentik, paling asli, dan telah menjadi rumah besar pembentukan tradisi keilmuan Islam di Indonesia,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kekayaan khazanah keilmuan pesantren yang sangat luas. Lombok, lanjutnya, dikenal sebagai “gudang naskah”, baik naskah beraksara Arab maupun naskah kuno beraksara Lombok. Kekayaan manuskrip ini merupakan warisan intelektual yang sangat berharga. “Di Jawa kita mengenal Pegon, di Sumatera kita mengenal Jawi. Semua menunjukkan bagaimana ajaran Islam yang murni dari Al-Qur’an dan Hadis dikontekstualisasikan dengan kearifan lokal. Ini kekuatan khas pesantren Nusantara,” jelasnya.
Selain sebagai pusat pendidikan dan dakwah, pesantren juga memiliki peran historis yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dr. Mahrus menegaskan bahwa kontribusi pesantren sudah terbukti sejak masa penjajahan, termasuk melalui fatwa jihad dan pengorbanan para kyai serta santri.“Sejarah menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya membangun kecerdasan umat, tetapi juga turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pesantren adalah pilar bangsa,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Dr. Mahrus berharap halaqah ini dapat menghasilkan rumusan penting untuk penguatan kelembagaan pesantren, terutama dalam menyambut kebijakan baru pendidikan Islam yang terus berkembang.“Semoga halaqah ini menjadi ruang bertukar gagasan, memperkuat jaringan, dan menghadirkan solusi bersama bagi kemajuan pesantren di Indonesia,” pungkasnya.
Selanjurnyan Pak Kasubdit Dr. Mahrus secara resmi membuka acara Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren. Kemudian acara pembukaan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Rais Syuriah PWNU NTB Dato TGH. L. Muhammad Turmuzi Badaruddin
Kemudian acara halaqaah dimulai dengan keynote Speaker disampaikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. H. Pratikno, M.Soc, Sc. dengan tema “Transformasi Peran Pondok Pesantren Sebagai BasisPembangunan SDM Indonesia Emas 2045”.
Dalam pemaparannya secara virtual, Bapak Menko PMK menegaskan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan wujud konkret kehadiran negara dalam memperkuat lembaga yang menjadi “detak jantung bangsa” itu.
“Para kiai, ibu nyai, dan jutaan santri yang memilih jalan ilmu serta pengabdian adalah energi moral bangsa ini. Dari pesantren lahir semangat hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) yang menjaga Indonesia tetap damai dan
toleran,” ujar Prof. Pratikno
Ia juga memaparkan, data Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan terdapat lebih dari 42 ribu pesantren dengan 12,5 juta santri di seluruh Indonesia. Angka itu bukan sekadar statistik, tetapi potensi sosial luar biasa untuk memperkokoh persatuan nasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih banyak pesantren berjuang
dengan keterbatasan infrastruktur, sanitasi, dan gizi santri.
Ia menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman. Santri, katanya, harus dibekali kemampuan vokasional, literasi.
Selanjutnya Direktur Ma’had Al-jami’ah UIN Mataram Prof. Dr. H. Zaidi Abdad, M.Ag. yang sebagai moderator sebelum memperkenalkan dan mempersilahkan narasumber memyampaikan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional, melainkan institusi peradaban yang terus menyalakan cahaya ilmu dan moral di tengah dinamika zaman. Pesantren juga bukan lagi dipandang sebagai lembaga pendidikan alternatif, tetapi mitra strategis negara dalam membangun peradaban. Dengan demikian pentingnya menjaga turats, memadukan sains dan kemandirian ekonomi di pondok pesantren.
Kemudian Moderator memperkenalkan dan mempersilahkan narasumber. Narasumber pertama, TGH. Munajib Khalid, mengangkat tema “Meneguhkan Komitmen Pesantren sebagai Basis Penguasaan Tradisi Keilmuan (Turats) untuk Membangun Generasi Beradab”, beliau menegaskan kembali posisi pesantren sebagai pusat penguatan intelektual, moral, dan peradaban Islam Nusantara.
Dalam pemaparannya, TGH. Munajib menekankan bahwa turats (kitab kuning) dan karya-karya kontemporer bukanlah dua dunia yang saling menegasikan, melainkan saling melengkapi.“Kitab kuning dan buku-buku kontemporer memiliki keterhubungan. Keduanya saling menyempurnakan. Koreksi turats dan kutub al-jadid justru memperkaya proses belajar. Kita tidak hanya menghafal, tetapi juga mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.
Beliau menjelaskan bahwa pesantren memiliki tradisi kuat dalam nazham, dan tradisi ini harus tetap dirawat sekaligus diintegrasikan dengan literatur kontemporer agar santri tidak tertinggal. TGH. Munajib mengangkat konsep penting tentang kesadaran sejarah. “Selama ini kita selalu diingatkan untuk ‘jangan lupakan jas merah’. Namun pesantren juga harus menghidupkan ‘jas hijau’—jangan sekali-kali melupakan jasa ulama. Keduanya saling berkorelasi dan menjadi kekuatan pesantren,” tegasnya.
Kesadaran terhadap warisan ulama ini penting agar pesantren tetap menjadi pusat nilai, adab, dan keteladanan. Dalam paparannya, TGH. Munajib juga menyinggung perdebatan akademik mengenai kapan sebenarnya pesantren pertama kali muncul—apakah pada abad ke-14 atau abad ke-18.“Ada kontroversi tentang kelahiran pesantren. Kampus harus melakukan penelitian yang akurat agar sejarah ini terang. Penelitian akademik sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kampus dan pesantren perlu berkolaborasi menghasilkan riset-riset otoritatif yang dapat menjadi referensi nasional. Menurut beliau, keberadaan UU Pesantren, Peraturan Menteri Agama, hingga Perpres harus ditindaklanjuti secara nyata. “Regulasi pesantren akan mengapung jika tidak dieksekusi. Ia baru hidup kalau direalisasikan. Untuk itu pemerintah daerah harus lebih banyak menengok pesantren,” tegasnya.
Implementasi kebijakan menjadi kunci penguatan pesantren agar tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. TGH. Munajib juga menyoroti tantangan era digital.“Anak-anak sekarang sudah akrab dengan smart phon sejak usia satu tahun. Tantangannya adalah bagaimana memfilter. Di sini pesantren punya andil besar dalam menyelamatkan generasi dari gesekan digital,”tambahnya.
Pesantren, sebagai lembaga berbasis moral dan adab, diharapkan mampu menjadi benteng etika di tengah derasnya informasi digital.
Menariknya, TGH. Munajib menutup materinya dengan menyampaikan kembali sembilan adab pesantren yang ia rumuskan dalam bentuk bait syair Arab (arud, Bahr Rajaz). Ia menekankan bahwa sembilan adab ini adalah ruh pesantren yang harus dilestarikan: 1). Mengutamakan adab daripada ilmu. 2). Khidmah santri kepada kiai sebagai sumber keberkahan—bukan eksploitasi. 3). Memperdalam kitab-kitab nazham. 4). Menjadikan hafalan kitab sebagai kebiasaan. 5). Menerapkan i’rab pada seluruh teks, termasuk tadarus i’rab Al-Qur’an. 6). Menjaga kehidupan gotong royong. 7) Menumbuhkan pribadi mandiri. 8). Istiqamah sepanjang hidup. Dan 9). Menghidupkan tradisi bahsul masail sebagai pendalaman problem keumatan.
Narasumber kedua, Prof. Dr. TGH. Zainal Arifin, Lc., MA, Sekjen PBNW yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Munirul Arifin NW Praya. Dengan tema “Membangun Sinergitas Pesantren dengan Dunia Akademik untuk Membangun SDM yang Unggul”, Prof. TGH. Zainal menekankan pentingnya kolaborasi dua institusi strategis untuk menjawab tantangan zaman dan membentuk generasi masa depan yang berkelas dunia.
Di awal pemaparannya, Prof. TGH. Zainal menyampaikan bahwa data global menunjukkan posisi Indonesia masih berada pada kategori negara berkembang dan tertinggal dalam banyak aspek dibanding negara-negara besar.“Harapan kita semua adalah melahirkan SDM yang unggul. Namun faktanya, kita masih jauh tertinggal ketika duduk berdampingan dengan negara-negara besar. Karena itu, dua institusi besar—pesantren dan kampus—harus bersinergi untuk melahirkan bangsa yang besar,” tegasnya.
Prof. TGH. Zainal menegaskan bahwa kerja sama adalah prinsip dasar dalam Islam. Ayat dan hadis telah menyebutkan pentingnya at-tawun (saling tolong) dan al-barkah ma‘al-jama‘ah (keberkahan hadir bersama kebersamaan).“Ketika pondok dan kampus berjalan beriringan, maka hasilnya akan lebih baik. Sinergi pesantren dan akademik adalah kekuatan luar biasa dalam membangun bangsa,” jelasnya.
Ia mengutip ayat “lita‘arafu” yang menekankan pentingnya saling mengenal, bekerja sama, dan bersinergi dalam memajukan peradaban.
Menurut Prof. TGH. Zainal, perubahan zaman bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan langkah institusi pendidikan.“Tantangan hari ini tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja. Santri yang hanya cerdas tidak cukup. Mahasiswa yang hanya kritis juga belum memadai. Kita membutuhkan keduanya sekaligus: ketajaman akal dan kejernihan hati,” paparnya.
Pesantren dan kampus, kata beliau, merupakan dua pilar yang masing-masing memiliki kekuatan berbeda namun saling melengkapi. Dalam hal ini pesantren unggul dalam penguatan karakter, akhlak, kedalaman spiritual, dan tradisi keilmuan. Sedangkan kampus unggul dalam pengembangan sains, teknologi, penelitian, dan inovasi. Sinergi keduanya adalah kunci lahirnya generasi unggul.
Prof. Zainal menyampaikan berbagai bentuk kolaborasi nyata yang dapat dilakukan antara pesantren dan perguruan tinggi, di antaranya: pertama, Kolaborasi Pendidikan melalui Program alih kredit bagi santri berprestasi, Kelas kolaboratif antara dosen dan ustaz pesantren dan Double track program yang menggabungkan ilmu agama dan sains modern. Kedua, Kolaborasi Riset dan Publikasi melalui Penelitian bersama terkait pendidikan Islam, sosial keagamaan, dan pengembangan masyarakat dan Penerbitan jurnal bersama untuk memperkuat tradisi akademik pesantren. Ketiga, Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Program pengabdian terpadu kampus–pesantren. Dan Pengembangan usaha pesantren melalui inkubasi bisnis, kewirausahaan, dan pelatihan ekonomi kreatif.
Menurut Prof. Zainal, apabila sinergitas ini diwujudkan secara terstruktur dan berkelanjutan, maka Indonesia akan melahirkan lulusan yang lebih lengkap kompetensinya. “Hasil sinergi ini adalah lulusan yang beradab, berpikir kritis, memiliki keahlian, dan siap terjun di tengah masyarakat. Inilah SDM unggul yang kita cita-citakan bersama,” ungkapnya.
Beliau menutup materinya dengan penegasan bahwa masa depan bangsa berada pada kualitas manusia yang lahir dari pesantren dan perguruan tinggi yang bersinergi secara erat.
Sesi diskusi dan tanya jawab dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren berlangsung hangat dan penuh gagasan. Para peserta—mulai dari akademisi, pimpinan pesantren, hingga tokoh organisasi keagamaan—menyampaikan berbagai pandangan kritis dan konstruktif terkait masa depan pesantren serta arah kebijakan Direktorat Jenderal Pesantren yang saat ini sedang dalam proses penguatan kelembagaan.
Sesi diskusi berjalan dinamis. Prof. Dr. H. MS. Udin, Ketua Senat UIN Mataram, mempertanyakan arah penguatan adab syuyukh, ilmu, khidmah, serta peluang beasiswa untuk santri.
Pertanyaan berikutnya dari TGH. Abdul Malik, Pimpinan Ponpes Ishlahul Ummah NW, menyoroti arah pembangunan pesantren menuju Indonesia Emas serta peluang penyaluran dana langsung ke pesantren.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Drs. TGH. Munajib memberikan respons awal. Ia menegaskan bahwa beberapa poin sesungguhnya diarahkan kepada pihak Direktorat Jenderal Pesantren, namun ia menyampaikan perspektif terkait nilai dasar yang harus menjadi pijakan kebijakan.“Sebenarnya arah pertanyaan ini lebih tepat ditujukan kepada Dirjen Pesantren. Namun perlu ditegaskan bahwa pengelolaan pesantren tidak boleh lepas dari manhaj Rasulullah. Tradisi silaturrahim antarpesantren harus diperkuat, terutama menghadapi isu radikalisme dan tantangan keumatan lainnya,” jelasnya.
TGH. Munajib menambahkan bahwa keteladanan generasi awal Islam—khususnya para sahabat seperti Umar bin Khattab—harus menjadi inspirasi dalam penguatan karakter dan kepemimpinan pesantren. “Kualitas para sahabat itulah kualitas generasi awal yang harus menjadi rujukan. Seluruh masukan dari forum ini akan menjadi bahan penting bagi Ditjen Pesantren untuk menetapkan arah kebijakan ke depan,”tambahnya.
Sesi diskusi ini berhasil menjadi ruang penegasan berbagai aspirasi strategis, mulai dari penguatan adab pesantren, kejelasan arah kebijakan, pengembangan SDM pesantren, hingga harapan agar dukungan anggaran lebih merata dan langsung dirasakan pondok pesantren.
Kegiatan ditutup dengan peneguhan komitmen bersama untuk mengawal proses pendirian Direktorat Jenderal Pesantren. Para pimpinan pesantren dan akademisi menyambut rencana ini dengan penuh kegembiraan dan optimisme, menilai pembentukan Ditjen Pesantren sebagai bentuk penghargaan negara yang telah lama ditunggu.
