Budaya News Sejarah

Boyan Bangkit: Kisah Suku Bawean yang Tak Pernah Lupa Akar di Singapura

BOYANESIA — Di tengah gemerlap Kota Singapura yang modern dan multikultural, terselip kisah unik sebuah komunitas kecil: Boyan. Sebutan itu merujuk pada keturunan suku Bawean — pulau di utara Gresik, Jawa Timur — yang sejak lama merantau ke Negeri Singa.

Dalam buku “Menjadi Boyan: Strategi Adaptasi Keturunan Bawean Singapura”, penulis Dewi Indrawati, Sukiyah, dan Lukman Solihin membuka tabir bagaimana komunitas ini tetap mempertahankan identitas tradisional mereka sekaligus sukses beradaptasi di negeri baru.

Sejarah migrasi orang Bawean ke Singapura sudah berlangsung berabad-abad. Mereka datang bukan untuk menetap saja, tetapi membawa tradisi dan solidaritas komunitas yang kuat.

Sebutan “Boyan” lahir dari salah pengucapan warga Inggris dan Tionghoa terhadap “Bawean” — dan hingga kini nama itu melekat di Singapura dan Malaysia.

Setibanya di negeri rantau, para perantau Bawean membangun struktur komunitas yang solid. Salah satu wujudnya adalah “ponthuk” — rumah komunal bagi keturunan Bawean yang baru tiba. Di pondok inilah mereka saling menopang, berbagi ruang tinggal, bahkan dapur dan musala bersama.

Buku “Menjadi Boyan” menggarisbawahi tiga pilar penting strategi adaptasi komunitas Bawean di Singapura:

Ekonomi

Orang Bawean merantau untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Di Singapura, mereka bekerja keras dan pintar menyesuaikan diri dengan pasar lokal, sehingga tetap bisa mandiri sekaligus memberdayakan komunitasnya.

Sosial

Mereka membangun jejaring dengan sesama Bawean, tapi juga berinteraksi aktif dengan kelompok lain. Lewat Persatuan Bawean Singapura (Singapore Baweanese Association), komunitas semakin kuat identitasnya.

Budaya

Dalam kehidupan sehari-hari, Boyan tetap merayakan budaya tradisional Bawean: dari tradisi merantau, bahasa, sampai acara adat. Nilai-nilai itu diwariskan secara turun-temurun agar generasi muda tak lupa asal-usulnya.

Salah satu simbol paling menarik dari komunitas Boyan adalah Kampung Lorong Buangkok, perkampungan Bawean terakhir yang masih eksis di Singapura. Meski dikelilingi bangunan tinggi dan urbanisasi, di sana masih terdengar kicau burung, suara saudara-saudaranya, dan semangat tradisi yang hidup.

Menjadi Boyan Tanpa Lupa Bawean

Dalam pandangan penulis buku, keberhasilan Boyan adalah contoh nyata bagaimana suku perantau bisa berkembang di negeri asing tanpa mengorbankan akar budaya.

Mereka tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat Singapura, tetapi juga duta budaya Bawean di luar negeri. Bahkan, pemerintah Indonesia bisa melihat komunitas ini sebagai ujung tombak promosi kebudayaan dan pariwisata.

Kisah Boyan itu lebih dari sekadar migrasi: ini soal kegigihan merawat budaya, solidaritas komunitas, dan adaptasi di tanah baru. Buku “Menjadi Boyan” mengajarkan kita bahwa merantau nggak harus bikin lupa asal — justru bisa memperkuat identitas dan memperluas wawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *