
GRESIK — Harga kedelai meroket dalam beberapa pekan terakhir ini, sehingga perajin tempe di beberapa daerah melakukan mogok kerja. Lainnya halnya di Kabupaten Gresik, perajin tempe justru lebih memilih untuk mengurangi produksinya dibandingkan dengan mogok kerja.
Seperti yang dilakukan oleh owner perajin tempe Kelompok Usaha Kecil, Menengah (UKM) Manalagi Group, Dewi Aminah. Dia bersama tiga pekerjanya tampak masih eksis memproduksi salah satu bahan pokok masyarakat Indonesia ini. Meskipun, Dewi kini harus mengurangi produksi tempenya.
Sebelum harga kedelai naik, ibu berusia 47 tahun itu bisa memproduksi mulai dari 80 kilogram sampai satu kwintal. Namun, saat ini dia terpaksa mengurangi produksinya.
“Kini setiap produksi hanya 40 kilogram saja, setengah dari biasanya produksi,” ujar Dewi saat ditemui di ruang produksinya di Jalan Sunan Prapen 4BB/09 RT 09 RW 02 Desa Klangonan, Kecamatan Kebomas, Gresik, Senin (21/2/2022).
Dalam menjalankan usahanya ini, Dewi membeli kedelai impor dari Amerika dengan harga Rp 11 ribu per kilogram, tepatnya di Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Gresik. “Di akhir tahun kemarin 2021, masih harga Rp 9 ribu, terus naik lagi bulan Januari sudah Rp 10 ribu sampai hari ini Rp 11 ribu,” ucap Dewi.
Keluarga Dewi sudah hampir 65 tahun menjadi perajin tempe di daerah tersebut dan dia sudah masuk generasi ketiga dari turun temurun keluarganya. Dalam menjalankan usaha ini, dia juga dibantu oleh saudaranya yang bernama Aisyah.
Aisyah pun menjelaskan tentang proses memproduksi tempe. Menurut dia, proses produksi tempe ini membutuhkan waktu empat hari, mulai dari direndam, dimasak, dipecahkan kulit dan bijinya, direndam lagi, masak lagi, hingga terjadi fermentasi. Setelah itu, baru dijual.
Setelah harga kedelai naik, menurut dia, keuntungan yang didapatkannya jauh lebih rendah dari biasanya. “Alhamdulillah tidak sampai rugi, cuma laba menipis,” ucap dia.
Dengan naiknya harga kedelai ini, Aisyah berharap pemerintah turut hadir untuk bisa memberikan solusi yang terbaik. “Karena nanti imbasnya tempe atau tahu akan langka, bahkan semakin mahal,” kata Aisyah.
Pewarta: M Faiz
Editor: Muhyiddin
