
boyanesia.com/ – Pengasuh Pondok Pesantren Minggir Slema, KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menyampaikan pandangannya terhadap sosok pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadrastussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Menurut Gus Muwafiq, sangat susah untuk menemukan kembali sosok seperti KH Hasyim Asy’ari di zaman-zaman lain. Menurut dia, Mbah Hasyim merupakan sosok yang sangat sulit dijumpai di era manapun.
“Susah mengulangi memiliki ulama seperti beliau, karena selain beliau menguasai ilmu yang sangat luas, keberanian dan kerasnya beliau pada dirinya sendiri itu susah sekali ditemukan,” ujar Gus Muwafiq dalam kajian bertajuk “Mengenal Sosok Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia” di Ponpes Minggir, Sleman, pada Sabtu (4/11/2023).
Baca Juga: Gelar Rakernas, LDII akan Tegaskan Dukungan untuk Palestina
Gus Muwafiq juga menyebut Mbah Hasyim sebagai ulama yang menyandang gelar Hadrastussyekh. Dalam catatan yang diunggah tebuireng online, setidaknya terdapat 25 kitab berbahasa Arab baik yang membahas kajian fikih, tasawuf, adab, dan disiplin ilmu lain.
Menurut Gus Muwafiq, Mbah Hasyim juga memiliki keberanian dalam mengambil risiko atas pilihan perjuangannya yang mungkin menimpa dirinya secara langsung. “Beliau tidak hanya alim, namun juga sangat berani pada resiko perjuangan,” ucap Gus Muwafiq.
Sifat lain yang disebut Gus Muwafiq yang melekat pada sosok Mbah Hasyim adalah keuletan dalam melakukan tirakat. Perpaduan dari sifat-sifat inilah, kata Gus Muwafiq, yang tidak mudah ditemukan di masa-masa yang lain.
Baca Juga: Aksi Bela Palestina di Monas, Ini yang Dituntut Rakyat Indonesia
Dakwah Melawan Kemaksiatan
Forum kajian tersebut juga menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz (Kiai Kikin). Dia pun mengisahkan perjuangan KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 1889 M.
Menurut Gus Kiki, Pesantren Tebuireng didirikan berada bersebelahan dengan Pabrik Gula Cukir milik Belanda yang banyak dikelilingi banyak kemaksiatan.
Pemilihan lokasi yang ‘berhadapan’ langsung dengan pusat lokasi kemaksiatan membuat pendirian pesantren Tebuireng mengalami banyak tantangan, baik dari mental seperti difitnah maupun fisik seperti ancaman penyerangan dan pembunuhan.
Baca Juga: Etika dan Doa Makan Sesuai Anjuran Rasulullah
“Oleh karena itu, dulu, pondok kan masih terbuat dari bambu, para santri tidak berani tidur dekat dengan dinding karena takut ditusuk dari luar oleh orang-orang yang tidak suka dengan dakwah KH Hasyim Asy’ari,” ujar Gus Kikin.
Dakwah dan perjuangan KH Hasyim Asy’ari tidak hanya dilakukan di dalam pesantren. Menurut Gus Kikin, setiap Selasa Mbah Hasyim meliburkan aktivitas mengaji bersama santrinya untuk kemudian berdakwah di tengah masyarakat.
“Makanya setiap Selasa, ngaji di pondok libur, dan beliau memilih untuk menggelar pengajian kecil di kampung-kampung,” ujar Gus Kikin. Ia juga menyebut, kitab yang dikaji Mbah Hasyim saat itu adalah kitab-kitab kecil yang praktis dan diperlukan di masyarakat.
Baca Juga: Chord Gitar Lagu Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim (Lagu Walisongo)
Selain itu, Gus Kikin juga menyinggung perjuangan Mbah Hasyim dalam berbagai lipatan sejarah Indonesia. Menurut dia, Mbah Hasyim tidak pernah absen dalam memperjuangkan agama dan bangsa.
Dia pun mencontohkan perjuangan Mbah Hasyim dalam melakukan konsolidasi umat Islam untuk melawan penjajah baik di era Belanda maupun Jepang.
Pasca deklarasi kemerdekaan, Mbah Hasyim juga mengeluarkan fatwa jihad yang menyeru umat Islam untuk bersatu melawan penjajah yang kembali hendak menjajah Indonesia.
