Tenun Baduy di Tengah Arus Zaman

BUDAYA

Tercatat lebih dari 58 motif tenun milik orang Baduy. Warna dalam motif tersebut dapat menyesuaikan selera penenun atau pemesan

LEBAK — Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, yang artinya, “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung”. Begitulah bunyi satu pikukuh (pedoman hidup) mendasar orang Baduy dalam memegang teguh adat (Permana, 2009:81). Berdasarkan pikukuh itu, adat tidak boleh diubah-ubah, harus diterima apa adanya. Kain tenun Baduy menjadi salah satu bukti prinsip dimaksud, tetap hidup dan dijaga hingga kini.

Pada tanggal 15–17 Mei 2026, kegiatan Hibah Community Development skema Inbound pada program “Enhancing Quality Education for International Impacts and Recognition” World Class University 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI) berlangsung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Program ini diketuai oleh Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana dari Departemen Arkeologi FIB UI bersama tim kolaboratif yang berisi dosen-mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Dari Universitas Indonesia, tim beranggotakan Dr. Syahrial, Dr. Muhammad Prabu Wibowo, Hapsari Setyowardhani, S.E., M.M., Argi Arafat, S.Hum., M.Hum., Khalila Putri Fajri, dan Marno Sunarya. Dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam Malaysia, tim terdiri atas Dr. Badli Esham Ahmad, Dr. Muhammad Zaidi Zakaria, Muhammad Al-Ameen bin Mohd Said, Nur Dania Umairah Binti Joha, dan Siti Nurba’ayah Abdul Aziz.

Kegiatan ini menjadi titik pertemuan antara dunia akademik dan pengetahuan lokal masyarakat Baduy untuk melihat strategi promosi kain tenun tradisional Baduy berbasis humaniora digital yang menghadirkan cerita di balik helaian kainnya.

Tradisi menenun yang diwariskan turun-temurun di wilayah Kanekes sudah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum tenun menjadi komoditas ekonomi seperti sekarang. Dulu, seluruh kebutuhan sandang masyarakat dibuat sendiri, dimulai dari benang pintal kapas, pewarnaan benang menggunakan bahan alami, hingga ditenun menjadi pakaian.

Pak Sarpin, seorang tokoh Baduy, mengatakan bahwa pada masa peralihan kolonial Belanda ke Jepang, ketika banyak wilayah mengalami krisis pakaian, masyarakat Baduy disebut tetap mampu memenuhi kebutuhan sandang mereka sendiri dengan menenun.

“Waktu itu memang terjadi krisis pakaian, di luar banyak yang pakai samping (kain) karet atau samping karung. Tapi di Baduy, itu enggak pernah terjadi,” ujar Pak Sarpin.

Lebih lanjut, ia menyatakan betapa baiknya kualitas tenun Baduy tersebut, “Bahkan, saya dapat turunan dari Ambu, kain dari nenek yang ditenun pada masa krisis pakaian. Masih tersimpan!”

Motif Kain Tenun Baduy

Saat ini, tercatat lebih dari 58 motif tenun milik orang Baduy. Warna dalam motif tersebut dapat menyesuaikan selera penenun atau pemesan. Sebagian motif memiliki fungsi adat tertentu, sebagian lagi digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Khusus Baduy Dalam, terdapat kain khusus bagi jajaran petinggi adat dan warga biasa, seperti samping aros surat awi gede untuk wakil puun (kepala adat), samping aros poleng kembang cikur untuk masyarakat biasa, samping aros paranak anggeus untuk jaro (kepala kampung).

Motif yang paling laris adalah suat songket–disebut juga ratu kerajinan–sehingga banyak dibuat oleh penenun. Ada pula suat samata yang biasa digunakan perempuan untuk berpesta, poleng paul untuk menggendong padi, poleng capit hurang digunakan sebagai bawahan perempuan saat upacara adat, poleng magrib digunakan laki-laki saat ritual penanaman padi, poleng hideung digunakan laki-laki dalam akad nikah dan sunatan, poleng kacang herang digunakan laki-laki maupun perempuan dalam kegiatan sehari-hari maupun upacara adat, dan adu mancung sebagai ikat pinggang ritual sebelum berkembang menjadi produk pasar.

Selain itu, terdapat janggawari yang merupakan kain sakral pembungkus benda-benda milik puun. Kain-kain yang dijual di luar Baduy ternyata telah meluas fungsinya saat digunakan masyarakat luar.

Alat Menenun

Di Baduy, satu perlengkapan alat untuk menenun disebut dengan pakaratinun. Dalam memintal, terdapat kincir untuk menarik benang, golebag untuk memintal hasil celupan, dan pajal untuk menggulung benang yang telah dipintal. Setelah itu, benang disusun melalui kandayan yang memiliki 24 lubang untuk membentuk motif.

Benang lalu dirangkai pada pihanean untuk menentukan seberapa banyak sebelum masuk ke tahap pengaturan motif di pangrerean. Setelah tersusun, benang dimasukkan ke pangrambuan agar posisi atas dan bawah menyatu rapat.

Tahap berikutnya melibatkan berbagai alat penting, yaitu caor sebagai alat pengikat tubuh penenun agar posisi kain tetap tegang, sisir untuk merapikan motif, jinjingan untuk

mengangkat anyaman, limbuhan untuk membolak-balik motif, barera untuk mengetok anyaman agar padat, patitihan sebagai penahan, totogan untuk menggulung benang, hapit untuk gulungan kain yang sudah jadi, dan cancangan sebagai tempat menggantung tenun sekaligus menghasilkan bunyi agar penenun tidak merasa sepi.

Selain itu, terdapat teropong untuk memasukkan benang pakan ke sela-sela anyaman. Untuk melicinkan alat tenun, terutama saat lembap atau basah, terkadang benangnya digosok dengan malam–lilin yang terbuat dari lapisan kedua dari luar sarang lebah.

Pelah: Kain dari Daun yang Tinggal Kenangan

Selain kapas, masyarakat Baduy mengenal tenun dari serat daun pelah. Namun, kain ini kini nyaris punah.

Jaro Saija, tokoh yang sangat dihormati masyarakat Baduy menyebut bahwa daun pelah diproses sangat panjang, yaitu dikeruk, dibaur, direndam, dijemur, dikeringkan, lalu diolah hingga menjadi serat yang dapat dianyam. Teksturnya kasar sehingga tidak bisa menggunakan sisir tenun seperti kain biasa.

Lebih lanjut, Ambu Misnah, salah satu penenun senior Baduy, menambahkan bahwa warna dasar pelah cenderung krem pucat. Pada bagian pinggir kain biasanya ditambahkan benang hitam dari kapas yang direndam di rawa selama sekitar sepuluh hari.

Setelah dijemur di bawah matahari terik, benang dilumuri bubur nasi lalu diremas seperti mencuci pakaian agar benang menjadi kuat dan rata. Selain itu, ada proses nyikat dengan kulit kelapa yang dikupas sedikit.

Berbeda dengan Baduy Luar yang mengeluarkan bunyi prok-prok pada alat tenun, di Baduy Dalam khasnya adalah gerakan menenun pelah yang lebih menyerupai tarian karena penenun harus menarik anyaman kuat-kuat agar seratnya rapat dan menyatu seperti kain. Namun, pemandangan itu nyaris hilang.

Di Baduy Dalam, alat-alat tenun pelah bahkan banyak yang tinggal tergantung di saung dan rusak dimakan rayap. Padahal, menurut Pak Sarpin, tradisi menenun justru mula-mula berkembang dari Baduy Dalam.

“Yang disayangkan, Baduy Dalam bukannya makin maju malah sudah hampir tidak ada yang menenun,” ujarnya.

Sekitar lima tahun lalu, samping dari pelah masih bisa ditemukan. Sekarang, keberadaannya semakin sulit dilacak.

Usaha Menghadirkan Kembali Bunyi Tenun yang Menghilang.

Pada tahun 2019, pernah ada program bantuan alat tenun untuk Baduy Dalam. Ambu Misnah bersama rekannya mencoba mengajarkan kembali tradisi menenun kepada ibu-ibu di sana. Sebanyak 25 paket alat tenun telah disiapkan. Namun, respons yang datang justru berbeda.

“Kata mereka, lebih baik beli daripada bikin sendiri. Kalau beli sehari bisa dapat lima, kalau bikin seminggu belum jadi satu,” tutur Ambu Misnah. Pada akhirnya, masyarakat Baduy Dalam membeli tenun dari Baduy Luar.

“Jadi, ada salah satu kampung, yaitu Cipaler, yang 80 persen hasil tenunnya untuk supply ke Baduy Dalam melalui pengepul dari Baduy luar–kadang hari Minggu atau Selasa keliling jualan ke Baduy Dalam,” jelas Ambu Misnah.

Produksi Saat Ini

Di Baduy Luar, tenun masih hidup sebagai aktivitas harian perempuan. Menurut Ambu Misnah, perempuan Baduy pada dasarnya diwajibkan belajar menenun, meskipin tidak semua akhirnya menekuni keterampilan itu. Sebab, menenun membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan “jiwa”.

Proses belajar dilakukan bertahap. Anak-anak biasanya memulai dari sabuk putih yang paling sederhana, lalu naik ke adu mancung, hingga akhirnya mampu membuat motif-motif rumit, seperti suat songket atau suat samata.

Menariknya, generasi muda di Baduy Luar justru mulai menunjukkan minat besar terhadap tenun. Di jalur Kaduketug hingga Cipaler, semakin banyak anak muda belajar menenun untuk membantu ekonomi keluarga.

Hasil tenun biasanya dijual kepada pengepul, lalu dipasarkan ke kota-kota besar hingga luar negeri. Meskipin permintaan pasar meningkat, masyarakat Baduy tetap mempertahankan prinsip kesederhanaan produksi, tanpa mesin dan tetap mengikuti aturan adat.

Dalam diskusi bersama tokoh adat dan Dinas Pariwisata Serang (17/05/2026), muncul kegelisahan tentang promosi digital. Internet memang membantu pemasaran, seperti melalui WhatsApp, Instagram, atau TikTok. Namun, pada saat yang sama dikhawatirkan menggeser cara orang memandang Baduy.

Kondisi ini juga menciptakan kesenjangan antarkampung. Wilayah dekat Ciboleger lebih mudah memasarkan produk karena akses sinyal lebih baik, sedangkan kampung yang lebih dalam sering kesulitan mengakses internet. Bahkan untuk mengirim foto produk saja kadang membutuhkan waktu sangat lama.

“Setengah jam itu mending, kadang semalaman baru terkirim,” ujar Ambu Misnah sambil tertawa.

Oleh sebab itu, banyak tokoh masyarakat berharap promosi tenun Baduy tidak berhenti pada estetika media sosial semata, tetapi juga memperkenalkan nilai budaya dan pengetahuan di balik setiap kain.

Walaupun keuntungan ekonomi dari menenun tidak terlalu besar, masyarakat percaya hasil tenun membawa keberkahan. Dalam keseharian masyarakat Baduy, menenun juga menjadi cara mengisi waktu saat tidak ada kegiatan berladang sambil menjaga warisan leluhur.

Melalui gambaran saat ini, kain tenun Baduy diharapkan terus lestari. “Menurut saya, satuntung dunia masih ada, budaya ini enggak akan hilang karena enggak diperbolehkan ikut budaya luar,” ujar Ambu Misnah. Lagi-lagi kembali kepada lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.

Referensi:

Permana, R. C. E. (2009). Masyarakat Baduy dan pengobatan tradisional berbasis tanaman.
Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, 11(1), 81. https://doi.org/10.17510/wjhi.v11i1.145