Tenun yang Hidup di Tangan Perempuan Baduy

BUDAYA

BOYANESIA.COM — Prok, prok, prok. Bunyi bambu beradu itu terdengar berulang dari sebuah rumah panggung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (16/5/2026). Di beranda rumah sederhana itu, jari-jari Ambu Misnah bergerak lincah menarik benang, menyusun motif demi motif di atas alat tenun tradisional.

Di sela pekerjaannya, si Ambu sesekali tersenyum sambil menjelaskan satu per satu rahasia kain tenun yang diwariskan leluhurnya itu.

Momen budaya itu berlangsung pada 15–17 Mei 2026 dalam rangkaian kegiatan Hibah Community Development skema Inbound pada program “Enhancing Quality Education for International Impacts and Recognition” World Class University 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI) di wilayah Baduy.

Program ini diketuai oleh Prof Dr. R. Cecep Eka Permana dari Departemen Arkeologi FIB UI bersama tim kolaboratif berisi dosen dan mahasiswa dari Universitas Indonesia serta Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Tim dari Universitas Indonesia beranggotakan Dr. Syahrial, Dr. Muhammad Prabu Wibowo, Hapsari Setyowardhani, S.E., M.M., Argi Arafat, S.Hum., M.Hum., Khalila Putri Fajri, dan Marno Sunarya. Tim dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam Malaysia terdiri atas Dr. Badli Esham Ahmad, Dr. Muhammad Zaidi Zakaria, Muhammad Al-Ameen bin Mohd Said, Nur Dania Umairah Binti Joha, dan Siti Nurba’ayah Abdul Aziz.

Kegiatan utamanya mempertemukan akademisi, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan, untuk membahas promosi kain tenun Baduy berbasis humaniora digital yang tidak lepas dari kisah-kisah di baliknya. Kisah panjang itu juga banyak diceritakan Ambu Misnah.

Diskusi Tim Pengabdian Masyarakat Sumber: Dokumentasi Pribadi, Sabtu (16/5/2026)

Sejak kecil, Ambu Misnah belajar menenun dari orang tua dan perempuan-perempuan di kampungnya. Perempuan memang diwajibkan belajar menenun, meskipun tidak semua akhirnya menekuni keterampilan tersebut. Karena katanya, dalam menenun diperlukan “jiwa”, ketelitian, dan kesabaran.

Satu kesalahan kecil saja pada motif yang diinginkan bisa membuat susunan benang harus dibongkar ulang. Kesalahan itu juga tidak bisa dibiarkan karena berlaku kepercayaan bahwa kain yang keliru dan tetap dipakai dapat membawa ketidakharmonisan atau memperberat masalah yang sedang dihadapi pemakainya.

Motif Tenun Baduy

Di tangan Ambu Misnah, lebih dari 58 motif tenun Baduy masih hidup dan diproduksi. Setiap motif memiliki fungsi tertentu dan terkadang diklasifikasikan untuk laki-laki atau perempuan.

Penjelasan Ambu Misnah dimulai dari tiga kain tenun Baduy Dalam untuk jajaran petinggi adat dan warga biasa, yakni samping aros surat awi gede untuk wakil puun (kepala adat), samping aros paranak anggeus untuk kalangan jaro (kepala kampung), dan samping aros poleng kembang cikur untuk masyarakat biasa.

Secara umum, motif yang paling menarik minat adalah suat songket sebagai ratu kerajinan yang biasa dipakai para perempuan dalam pesta atau ritual penting. Ada juga motif suat samata yang biasa digunakan saat pesta dan poleng capit hurang sebagai bawahan saat upacara adat.

Sementara untuk laki-laki, terdapat poleng magrib yang ditaruh di kepala saat jampi-jampi ritual penanaman padi dan poleng hideung untuk akad nikah serta sunatan. Terdapat juga poleng kacang herang yang digunakan laki-laki atau perempuan dalam kegiatan sehari-hari maupun upacara adat. Adapun adu mancung dahulu sebagai ikat pinggang ritual dan poleng paul untuk menggendong padi yang akan disimpan di lumbung.

Motif Janggawari. Sumber: Dokumentasi Pribadi (16/05/2026)

Terakhir, motif Janggawari digunakan untuk membungkus benda-benda milik puun. Motif ini tidak boleh dilihat masyarakat umum karena hanya diketahui oleh puun, wakil puun, serta jaro Baduy Dalam. Pembuatan janggawari diikat aturan adat yang ketat. Kain hanya boleh ditenun pada waktu-waktu tertentu, ditenun di loteng dengan tidak mengenakan sehelai pun pakaian, dalam kondisi berpuasa serta telah bebersih sebelumnya, tidak terlihat siapapun, dan disertai jampi-jampi.

Namun, kini terjadi pergeseran. Motif Janggawari telah menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan selama tidak melalui ritual adat. Karena tingkat kesulitan motif dan nilai sakralnya yang tinggi tadi, harga kain dengan motif ini menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan tenun Baduy lainnya.

Menyelamatkan Motif yang Hampir Hilang

Di tengah arus modernisasi dan pasar yang semakin menuntut produksi cepat, banyak motif lama perlahan menghilang. Salah satunya adalah suat samata. Menurut Ambu Misnah, pada awal tahun 2000-an, motif ini nyaris punah karena tidak ada generasi penerus yang mampu membuatnya. Saat itu hanya satu orang di Gajeboh dan ibu mertuanya yang masih menguasai.

Motif Suat Samata. Sumber: Dokumentasi Pribadi (16/05/2026)

“Pas saya sudah bisa, motif itu saya ajarkan lagi ke tetangga dan anak-anak. Sekarang mulai banyak lagi yang bikin,” tuturnya.

Pengajaran Menenun

Ambu Misnah hampir menguasai 58 motif tenun. Ia mengajarkan semuanya secara turun-temurun kepada anak-anak muda, tetangga, bahkan tamu yang datang belajar. Tidak jarang ia membeli sendiri benang dan alat latihan agar generasi muda tetap mau mengenal tenun tradisional kampungnya itu.

“Kalau ngajarin enggak wajib. Tapi kalau belajar, semua wajib,” katanya sambil tertawa kecil.
Di rumahnya yang tenang, proses belajar dimulai dari motif paling sederhana, yakni sabuk putih yang hanya menggunakan satu jinjingan dan limbuhan. Selanjutnya, mereka dapat mempelajari adu mancung–dari putih polos tengahnya, tetapi terdapat motif pada ujungnya.

“Setelah menjiwai dua motif itu, buat suat songket, samping poleng, suat semata, janggawari, pokoknya yang ada di Baduy ada lebih dari 58 motif,” ujar Ambu Misnah.

Lebih lanjut, Ambu Misnah mengatakan, “Kalau benar-benar menjiwai tiap hari, paling seminggu pasti bisa. Soalnya belajar langsung praktik.”

Dari Baduy ke Belanda

Di rumah Ambu Misnah, tenun Baduy tidak hanya berhenti sebagai tradisi lokal. Kain-kain itu kini telah menjangkau pasar internasional.

Sudah sekitar lima belas tahun kain Baduy mulai diekspor melalui perantara dari Jakarta ke Belanda, Australia, hingga Jepang. Para desainer pun datang langsung ke Baduy, memotret model dengan kain tenun di jembatan Gajeboh, lalu membawa kain itu ke panggung mode.

Bahkan seorang perempuan Belanda pernah belajar menenun langsung kepada Ambu Misnah selama berminggu-minggu hingga mampu menyambung motif kain yang putus tanpa kesalahan.

Baduy Dalam Berhenti Menenun

Ironisnya, tradisi tenun yang dahulu berasal dari Baduy Dalam justru kini lebih bertahan di Baduy Luar. Pada 2019, Ambu Misnah sempat diminta menjadi pelatih tenun untuk masyarakat Baduy Dalam. Sebanyak 25 paket alat tenun sudah disediakan. Namun, usaha itu tidak berjalan lama.

“Mereka bilang, ‘Ah, nenun mah berabe. Mending beli.’ Kalau beli sehari bisa dapat lima kain, kalau bikin sendiri seminggu belum selesai satu,” kenangnya menirukan kalimat yang diucapkan seorang ibu di Baduy Dalam.

Kini sebagian besar kebutuhan kain Baduy Dalam justru dipasok oleh penenun Baduy Luar, terutama Kampung Cipaler yang 80 persen hasil tenunnya dijual melalui pengepul dengan berkeliling setiap Selasa dan Minggu.

Kepercayaan dalam Menenun

Aktivitas menenun pada orang Baduy berkaitan dengan dunia spiritual. Sebelum menenun, terdapat jampi-jampi atau ritual yang perlu diketahui, terutama saat ingin menenun suat songket yang merupakan ratu kerajinan. Menurut kepercayaan di sini, saat ingin menenun suat songket, seseorang harus menguasai jampi-jampinya. Kalau tidak menguasai jampi-jampi itu, di akhirat dia akan disiksa oleh suat songket.

“Jadi, harus kuasai jampi-jampi dulu, baru bisa bikin berapa pun,” jelas Ambu Misnah.

Namun, jampi-jampi atau ritual tersebut tidak boleh diketahui oleh orang luar Baduy, bahkan ke orang Baduy yang tidak minat diajari menenun pun demikian.
“Ritual enggak boleh dikasih tahu, bahkan ke orang Baduy sendiri yang enggak minat belajar juga enggak boleh,” katanya.

Selain itu, ada hari-hari tertentu ketika masyarakat dilarang menenun sama sekali, yakni pada tanggal 14, 15, dan 16 bulan Safar pada penanggalan Baduy. Bahkan, melirik pun tidak diperbolehkan sehingga alat tenun disimpan dengan digantung dan ditutup kain sebelum tanggal tersebut.

Selain itu, pada 11 bulan lainnya, tepatnya setiap 16 bulan purnama, menenun dilarang karena berkaitan dengan kepercayaan terhadap Putri Ratu Kahyangan, leluhur tenun yang dipercaya sedang menenun pada malam purnama.

“Menurut kepercayaan, benang tenun ini bukan sekadar benang dianyam, dibikin kain untuk kita, tetapi ada leluhurnya. Jadi, tenun ini punya Tuhan. Saat Putri Ratu Kahyangan menenun, manusia enggak boleh ikut menenun,” jelasnya.

Pewarnaan Alami Tenun Baduy

Sebelum menggunakan benang dari pabrik yang diperoleh dari Majalaya, Bandung, karena permintaan pasar yang semakin banyak, benang dibuat dari kapas yang dipintal sendiri dengan golebag. Setelah itu, diwarnai dengan bahan alami.

Benang dari Bahan Alami. Sumber: Dokumentasi Pribadi, Sabtu (16/05/2026)

Warna hitam yang tidak begitu pekat dibuat dari rendaman lumpur rawa selama sekitar sepuluh hari. Sementara warna biru berasal dari daun tarum (Indigofera zollingeriana), kuning dari kulit nangka, cokelat dari kulit reungrang, dan warna-warna lainnya dari berbagai tumbuhan sekitar ladang.

Bahan-bahan alami itu direbus hingga menghasilkan endapan dan airnya bening, lalu benang dicampurkan ke endapan. Setelah itu, benang dijemur di teras rumah–tidak terkena sinar matahari. Proses tersebut berulang direbus hingga dua belas kali agar warna meresap sempurna.

“Warna alam itu susah. Dicelup, dijemur, direbus lagi, sampai berkali-kali,” ujar Ambu Misnah.

Itu sebabnya, kain tenun dari pewarna alami lebih mahal daripada kain tenun biasa, yakni berkisar Rp 600 ribu per dua meter. Kain tenun dari benang pabrik berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Sementara satu kilo benangnya, sekitar 20 kerentil (gulung), harganya Rp 180 ribu.

Alat Menenun

Ambu Misnah juga mengenalkan alat-alat tenun yang disebut pakaratinun. Beberapa di antaranya adalah kincir untuk menarik benang, golebag untuk memintal hasil celupan, dan pajal untuk menggulung benang. Benang kemudian disusun dengan kandayan untuk membentuk motif, dirangkai pada pihanean untuk ukuran kain, lalu diatur di pangrerean dan pangrambuan agar anyaman rapat.

Selain itu, terdapat caor untuk menjaga ketegangan kain, sisir untuk merapikan motif, jinjingan dan limbuhan untuk mengatur anyaman, barera untuk memadatkan tenun, hapit untuk gulungan kain yang sudah jadi, serta teropong untuk memasukkan benang ke sela-sela anyaman. Ada pula cancangan yang menggantung tenun sekaligus menghasilkan bunyi bambu khas saat proses menenun berlangsung: prok, prok, prok.

Kincir
Sumber: Dokumentasi Pribadi, Sabtu (16/05/2026)

Di tangan Ambu Misnah, tenun Baduy tampaknya tidak dibiarkan berhenti sebagai cerita yang tergerus zaman. Ia terus menghidupkannya, mengajarkan motif yang hampir hilang, menyediakan alat dan bahan belajar untuk generasi muda, hingga setiap helai kain tetap memiliki makna.

Limpahan ucapan terima kasih pantas diberikan atas kegigihan setiap masyarakat Baduy yang memastikan keindahan seni tenun Baduy hingga tetap terlihat sampai hari ini dan seterusnya. Untuk itu, pemerintah dan masyarakat lainnya perlu turut serta merawat warisan budaya ini dengan penuh kebanggaan.